.

.

Minggu, 06 September 2009

Written on

Kearifan Lokal – Membuat Pupuk Organik Jerami di Sawah!

Kegiatan Menumpuk Sekam, Kotoran Sapi, Seresah Daun, Sampah Pasar Organik dan  Perhatikan
sudah disiapkan Dekomposer (Cairan untuk Mengkomposkan bahan-bahan Organik) yang akan disemprotkan
dengan Combor lapis demi lapis


Prinsip Bertani untung adalah penghematan biaya produksi, jika hemat biaya produksi tetap - untung, jika produksi naik - semakin untung.
Dengan selalu menggunakan teknologi ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Semoga Para Sahabat Petani sudi memahami dan menghayati prinsip ini.
Salam lestari

Merugi..! Membakar Jerami di Sawah!

Jika jerami tidak diberikan untuk pakan ternak, dan atau dijual, janganlah dibakar! Dibanding keuntungannya, membakar jerami di sawah mempunyai kerugian dan dampak negatif bagi lahan dan ekosistem.

Pembakaran jerami, disadari atau tidak merugikan petani karena:


  1. menimbulkan pencemaran/polusi udara serta berakibat pada penipisan lapisan ozon pelindung planet bumi
  2. mengurangi ketersediaan bahan organik dalam tanah
  3. mempercepat proses tanah/lahan menjadi kritis/tandus/sakit/tidak subur
  4. pemakaian pupuk menjadi boros
  5. membunuh mikroba tanah yang menguntungkan yang berada dilapisan olah tanah/top soil yang menjadi sahabat petani
  6. menghilangkan potensi unsur hara makro dan mikro yang bisa dipasok melalui jerami (N, P, K, Si dll).

Yang dibutuhkan Cuma Terpal, membuat Pupuk Organik langsung di Lahan


Potensi panen jerami adalah 1,4 kali dari hasil panen padi (Kim&Dale-2004). Sehingga jika panen padi 8 ton gabah akan diperoleh jerami sebanyak 11,2 ton jika setahun panen padi dua kali potensi jerami ada 22,4 ton, jika selama 10 tahun, 2240 ton jerami, wow, fantastis!

Kandungan unsur hara jerami (belum dikomposting) di Indonesia rerata adalah berkisar N 0.4%; P 0.02%; K 1,4%; dan Si 5,6% dan unsur hara lainnya.

Hasil analisis laboratorium terhadap kompos jerami (jerami yang sudah dikomposting) yang dibuat dengan menggunakan berbagai bioactivator berbeda-beda nilai haranya. Hal ini tergantung dari jenis mikroba yang digunakan, komposisi bahan, cara dan perlakuan saat pembuatannya. Namun demikian umumnya perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan. Data berikut adalah salah satu dari hasil analisis kompos jerami dengan penggunaan bioactivator "PROMI" dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, dari seorang Rekan.

- Rasio C/N: 21; C-Organik: 35,11%; Nitrogen (N): 1,86%; Fosfor (P2O5): 0,21%; Kalium (K2O): 5,35%; Kalsium (Ca): 4,2%; Magnesium (Mg): 0,5%; Tembaga (Cu): 20 ppm; Mangan (Mn): 684 ppm; Zing (Zn): 144 ppm.

dari hasil analisis tersebut jika terdapat satu ton pupuk jerami/kompos jerami padi maka akan memiliki kandungan hara setara dengan kurang lebih 41,3kg urea, 5,8 kg SP36, dan 89,17kg KCl.

Kemasan Ragi Kompos. Pemesanan bisa via 0812.4941.2121 atau 08581868686


Membuat Kompos Jerami/Pupuk Organik Jerami

Berikut kiat mengomposkan jerami di lahan sawah petani dalam waktu 2-3 minggu tanpa proses penutupan "Terpal/plastik" dan tanpa "pembalikan":

pembuatan bisa langsung dilaksanakan di lahan, total 25 ton per hektar bisa langsung terpenuhi. tidak perlu dibuat di rumah kompos, cukup menggunakan kudung mulsa hitam perak dan dibuat dimusim kemarau

  1. siapkan activator "ragi kompos", buat larutan activator dalam ember.
  2. kumpulkan jerami padi di pinggir lahan atau tengah lahan (mana yang paling mudah), tumpuk setinggi 10-15cm, padatkan dgn cara diinjak2, siram dengan larutan bio-activator sampai basah/lembab. Ulangi langkah tersebut sampai bahan jerami habis.
  3. ukuran petakan dari tumpukan jerami panjang dan lebarnya bebas, namun tinggi tumpukan HARUS diusahakan minimum 80cm (agar diperoleh energi panas untuk proses deomposisi).
  4. Bagian atas tumpukan jerami ditutup dengan tanah dari lahan tsb (seperti plesteran semen). Tipis saja tidak perlu tebal-tebal selain sebagai pemberat agar tumpukan tidak kabur tertiup angin, juga mampu mempertahankan kelembaban tumpukan tetap stabil. Keliling tumpukan tidak perlu diplester. Pertimbangan lain jika ditutup dengan terpal (takutnya terpalnya hilang!)
  5. Amati proses pengomposan 5 hari sekali, SELALU USAHAKAN agar kondisi tumpukan LEMBAB, jika agak kering siram/percikan dengan air biasa secukupnya.
  6. Jika kelembaban terjaga maka dalam waktu 2 minggu tinggi tumpukan akan menyusut 50% (separonya), dan jerami telah menjadi kompos dgn ciri coklat kehitaman, lunak, siap disebarkan merata ke lahan.
Kiat ini telah kami dapatkan dari aktifis pengembangan Pertanian Organik Indonesia dan sudah diberikan pada teman-teman petani di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan  Jateng. Perlu diketahui dari pengalaman di lapangan bahwa proses pembuatan jerami dari bahan sebanyak 1 ton ternyata hanya menghasilkan 500-600 kg (terjadi penyusutan sekitar 40-50%)

Read More

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Donasi

Radio Streaming Herdinbisnisdotcom


Get the Flash Player to see this player.


MENYIMAK di WINAM