.

.

Kamis, 05 Agustus 2010

Written on

Cara Melatih Burung Cendet

Bukan saya sok pintar atau sok apapun, tetapi saya cuma ingin berbagi pengalaman tentang cara melatih burung cendet agar memiliki mental tanding yang bagus. Pengalaman ini saya dapatkan ketika masih menjadi buruh industri, dimana saya masih tinggal di tempat kost di wilayah Gresik yang berbatasan dengan wilayah Sidoarjo, tepatnya di dusun Larangan, Krikilan, Driyorejo – Gresik. Kala itu saya hobi melihara burung apa saja yang penting harganya terjangkau. Salah satunya adalah “cendet”. Kebetulan cendet milik saya termasuk cendet “jantan”. Bicara soal antara cendet jantan dan betina, salah satu teman saya bilang bahwa perbedaan antara keduanya adalah pada warna hitam di kepala (garis hitam pada sekitar mata). Dimana yang jantan warna hitamnya hampir tersambung sampai belakang kepala, sedang yang betina memiliki warna hitam lebih sedikit atau sebatas lubang pendengaran di kepala cendet. Cendet milik saya, saya dapatkan dari tetangga yang merupakan penduduk asli yang merasa bosan karena cendet tersebut tak kunjung berkicau atau cenderung diam. Beliau membeli cendet tersebut dengan harga Rp.125.000,- sebelumnya. Akhirnya, teman kost memberikan masukan agar membeli cendet tersebut, yang mana teman kost saya tadi bersedia membantu saya menawar harganya agar lebih murah lagi. Alhasil, cendet tersebut berpindah tangan ke saya dengan harga Rp.100.000,- + sangkarnya. Pemilik cendet bersedia memberikan cendet tersebut kepada saya karena sudah kenal dekat dengan saya. Sejak saat itulah pengalaman saya dimulai, bahkan pengalaman itulah yang saya kenang hingga saat ini. Karena saya sungguh bangga dengan hasil latihan yang saya terapkan pada cendet tadi.


Berikut tips melatih cendet agar mempunyai mental yang bagus dan tangguh dalam urusan berkicau :



1. Penjemuran : Rajin-rajinlah menjemur burung cendet di pagi hari ketika sinar matahari sudah terlihat terang dan hangat. Batas waktu penjemuran tergantung stamina. Mungkin untuk mengawali, batasi jam penjemuran pada pukul 10 pagi, paling tidak hingga cendet terdebut tampak sudah kepanasan, biasanya tampak cendet membuka paruhnya untuk mengeluarkan hawa panas pada tubuhnya. Semakin sering, biasanya cendet akan semakin terbiasa dan semakin tahan panas. Jika sudah terbiasa, biasanya cendet tahan hingga pukul 12 siang. Pastikan setelah penjemuran, cendet ditaruh di tempat teduh yang terbuka, jangan langsung menaruh di tempat tertutup untuk menghindari pengaruh perubahan suhu udara yang mendadak yang mungkin mengakibatkan ketidaknyamanan burung cendet. Penjemuran tidak hanya berguna untuk melatih stamina, tetapi juga untuk menjaga agar paruh dan kukunya tidak memanjang. Paruh cendet yang memanjang mengakibatkan cendet agak susah memilah makanan yang dimakannya dan kalau cendet tersebut galak, pastinya suka mematuk dan bisa melukai tangan jika kita hendak memberi makan atau lainnya. Kuku kaki yang terlalu panjang juga mengakibatkan cendet tidak bisa mencengkeram kayu tumpuan dengan nyaman. Bagi cendet yang terlanjur memiliki paruh yang memanjang hingga melengkung, penjemuran akan sangat efektif untuk memendekkannya lagi. Karena kelebihan paruh atau ujung paruh yang memanjang akan lepas atau putus dengan sendirinya, termasuk kuku-kuku kakinya.



2. Memandikan cendet : Dalam memandikan cendet, kenalilah cendet anda. Pada umumnya, kebanyakan orang memandikan cendet dengan cara disemprot. Untuk cara ini, usahakan ujung semprotan disetel hingga air yang keluar agak menyebar seperti embun tetapi jangan terlalu halus, karena dikhawatirkan akan terhirup dan mungkin bisa menyebabkan pilek pada cendet. Dan jangan terlalu kasar, sehingga tidak merusak bulu cendet dan menyakiti badan cendet tersebut. Cukup diperhalus yang penting bisa membasahi bulu cendet. Adakalanya, sehabis cendet disemprot, burung tersebut seperti tidak puas atau tidak nyaman dan ingin mandi sendiri, maka pastikan mempunyai bak mandi khusus di dalam sangkar agar cendet tidak menghabiskan jatah air minumnya untuk mandi. Karena jika cendet mandi dari wadah air minumnya, mungkin bisa mengotori air tersebut atau tanpa kita sadari air tersebut habis dan akhirnya membuat cendet kesulitan untuk minum dan kehausan. Ada juga yang berusaha memandikan pakai keramba (sangkar khusus mandi). Terus terang cara ini paling sulit dilakukan, karena kemungkinan hal ini bukanlah kebiasaan cendet (secara naluri) untuk mandi di air yang luas dan penuh, misal di sungai atau danau dsb. Dan untuk melatih dengan keramba sangat susah sekali, jadi untuk cara ini tidaklah perlu dipaksakan. Cukup tergantung reaksi cendet tersebut. Sehabis dimandikan, pastikan langsung dijemur pada terik matahari. Jadi jika pada hari itu tampak mendung atau tidak ada panas, sebaiknya tidak usah dimandikan.



3. Pemberian makan : Untuk pemberian makanan agar cendet tetap fit, kita bisa memberikan makanan berupa jengkerik atau kroto segar. Bila anda punya waktu luang, mungkin bisa mencarikan belalang yang berukuran sedang (tidak perlu sesering mungkin), mengingat hal ini mungkin jadi kebiasaan cendet di alam liar. Agar makanan berupa jengkerik maupun belalang tidak menyakiti tenggorokan cendet, pastikan untuk membuang kaki dan kepala dari jengkerik atau belalang tadi. Jumlah pemberian jangan terlalu berlebihan. Sebab cendet yang terlalu rakus, akan menyebabkan cendet tersebut malas berkicau karena setiap melihat kita pasti akan meminta lagi dan lagi. Jika ingin memberikan jengkerik, mungkin bisa dijadwal seperti berikut : pagi 3 ekor jengkerik dan sore 3 ekor atau perhari cukup 5 ekor dan sebagainya, yang penting jangan berlebihan. Untuk kroto, cukup jadikan sebagai nutrisi tambahan, jadi jangan terlalu sering. Maka berilah kroto secukupnya untuk beberapa hari saja. Untuk menjaga kroto tetap segar, jangan membuang induk kroto (keranggang) karena dengan adanya induk kroto tadi, kroto (telur keranggang) akan dijaga oleh induknya tadi. Sebab, kroto yang busuk bisa menjadi racun yang mematikan bagi semua burung. Jadi cukup sisihkan induk kroto ketika kita akan memberikan kepada cendet saja. Takarannya juga tidak perlu berlebihan, kira-kira sesendok makan atau anda perkirakan sendiri.



4. Sangkar cendet : Untuk urusan sangkar sebaiknya anda tidak perlu ragu atau menunda. Pastikan selalu menggunakan atau membeli sangkar yang lumayan besar atau cukup lapang agar tidak merusak ekor dan burung merasa lebih leluasa sehingga tidak mudah stress. Karena cendet merupakan burung yang memiliki memori yang begitu kuat. Saking kuatnya ingatan burung cendet, burung ini begitu hafal hanya dengan suara-suara yang didengarnya. Contohnya suara motor, dimana pada pengalaman saya, teman saya memiliki burung cendet yang selalu ketakutan ketika berdekatan atau melihat bapak kost. Ketakutan ini disebabkan karena bapak kost sering membawa tangga yang panjang dan melewati tempat cendet tersebut digantungkan. Pada waktu jam istirahat kerja, bapak kost yang juga merupakan buruh pabrik, sering berkunjung untuk memperbaiki sesuatu, entah genting kamar kost atau bak penampung air di tempat kost. Alhasil karena seringnya, akhirnya cendet tersebut selalu ketakutan ketika melihat bapak kost tadi, bahkan hanya dengan mendengar suara motor milik bapak kost tadi, cendet tersebut langsung ketakutan dan seakan mau kabur. Lain halnya saat cendet tersebut mendengar suara motor pemilik cendet tersebut. Si cendet langsung siaga seakan siap untuk meminta jengkerik.



5. Melatih mental dan stamina : Inilah inti pembahasan pada topik ini, jadi baca dengan sebaik-baiknya, karena disinilah letak keberhasilan saya melatih cendet. Bicara stamina, pastilah burung yang terbiasa hidup di dalam sangkar memiliki stamina yang sangat jauh berbeda dengan burung yang hidup di alam liar. Dimana seandainya burung yang biasa hidup di dalam sangkar, tidak akan mampu terbang jauh atau berlama-lama terbang. Seringkali burung piaraan yang lepas, pasti akan selalu mencari air untuk minum karena kehausan yang disebabkan kelelahan saat terbang. Maka dari itu, kita perlu melatih burung agar mempunyai stamina layaknya burung yang hidup di alam liar. Hal ini terinspirasi dari cerita teman saya yang lain, dimana cendetnya pernah di lepas ke kebun belakang rumah. Si pemilik tidak takut cendet tersebut kabur menghilang karena begitu jinaknya cendet tadi. Dan pemilik cendet yakin burungnya pasti mau pulang karena sebelumnya juga pernah dilakukan dan cendet tersebut memang mau kembali pulang. Tetapi pada suatu hari, ada kejadian yang tidak diinginkan dimana pada waktu cendet tersebut sedang hinggap di cabang pohon tinggi, datanglah cendet liar dan terjadilah pertarungan. Karena kalah pengalaman terbang dan stamina, akhirnya cendet milik teman saya tadi kalah dan terbang jauh untuk kabur dan tak pernah kembali lagi. Maka kita perlu melatih stamina dengan cara membuat kandang yang luas, jika anda kesulitan mencari lahan atau tempat, mungkin bisa menjadikan kamar pribadi anda untuk melatihnya. Pada pengalaman saya, saya menjadikan kamar kost untuk melepaskan cendet tersebut agar bisa terbang bebas. Cukup pastikan tidak ada lubang ventilasi atau celah bagi burung untuk kabur. Tetapi perlu diperhatikan bahwa anda juga harus memastikan bahwa cendet milik anda tidak terlalu liar atau sudah lumayan jinak sehingga nantinya anda tidak kesulitan untuk memancing cendet kembali ke sangkarnya. Jika anda sudah memiliki tempat atau kandang luas tersebut (kadang disebut “bantaran”), maka untuk membiarkan cendet keluar dan terbang, cukup buka pintu sangkar dengan cara ditahan pakai apa saja yang penting pintu sangkar akan tetap terbuka, bisa pakai lidi sapu atau lainnya. Hal ini bertujuan agar cendet keluar dengan sendirinya dan mungkin mulai terbang menjelajah bantaran tadi. Jika di dalam kamar, mungkin sebaiknya anda menyiapkan sangkar kosong lainnya, agar bisa menjadi tempat berpindah atau hinggap setelah cendet terbang leluasa. Jika tempat bantaran merupakan kandang yang luas di luar rumah, pastikan ada tempat berteduh dan sesuatu untuk bertumpu atau hinggap dan sediakan air minum pada tempat tadi. Pada latihan terbang pertama kali, anda harus mengawasinya dahulu. Mengingat stamina yang masih belum terlatih. Biasanya cendet akan cepat kelelahan dan akhirnya terbang ngawur bahkan mungkin hinggapnya juga ngawur akibat kelelahan. Jika hal itu terjadi, kita terpaksa mengembalikan ke sangkarnya dengan cara menangkapnya karena pasti mudah tanpa perlawanan, paling-paling cuma mencengkeram dan mematuk lemah. Lakukan setiap hari sampai cendet sudah mampu terbang stabil dan kuat terbang lama-lama. Jika stamina terbangnya tampak kuat dan sudah terbiasa, bisa kita mulai melatih dengan jengkerik. Buang kaki dan kepala jengkerik kemudian lemparkan ke atas dengan harapan agar cendet langsung terbang dan menyergap atau menangkap jengkerik tadi. Jadi pastikan cendet anda tahu bahwa anda sedang berusaha memberi jengkerik. Biasanya, ketika anda membawa wadah jengkerik, cendet sudah tahu karena hafal bahwa anda hendak memberi makan. Lakukan secara rutin dengan cara melempar jengkerik tadi tetapi pastikan jarak lemparan bisa terjangkau oleh cendet. Adakalanya, anda perlu melepaskan cendet seharian atau sehari penuh. Untuk hal tersebut, sebaiknya dilakukan di dalam kamar agar cendet tidak kedinginan ketika menjelang malam. Pada pengalaman saya pribadi, cendet saya tampak begitu bahagia atau saking senangnya saat dilepaskan bebas. Hal itu tampak ketika saya bangun dari tidur di pagi hari, dimana cendet saya langsung menyambut saya dengan terbang sambil berkicau. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya melihat cendet terbang sambil berkicau. Pengalaman yang lain juga ada, yaitu begitu bencinya cendet saya terhadap orang yang memakai topi. Hal tersebut tampak ketika saya pulang kerja. Ketika saya berangkat kerja, cendet sudah saya lepaskan di dalam kamar dan saya tinggal kerja. Begitu saya pulang pakai topi dan masuk kamar, cendet saya langsung terbang menyambar topi saya berkali-kali. Kadang saya goda dengan cara seperti hendak memegang topi. Saat tangan saya mendekati topi, cendet tersebut tampak siaga seperti hendak memangsa. Dan begitu saya angkat topinya, cendet saya langsung terbang meluncur dan menyambar topi tadi. Sekali waktu, cendet saya gandeng (istilah diadu dalam masalah kicaunya) dengan burung cendet lain. Cendet saya selalu tidak mau kalah dan terus berkicau. Tetapi pada saat seperti itu, belum cukup meyakinkan saya bahwa latihan yang saya terapkan berhasil. Hasilnya justru terlihat ketika cendet saya berpindah tangan (dibeli teman) dari Malang. Padahal saya tidak ada niat untuk menjualnya, berhubung teman saya merajuk terus, akhirnya saya ikhlaskan dengan harga Rp.150.000,-. Lalu dimana letak keberhasilannya? Keberhasilan latihan yang saya terapkan adalah ketika burung tersebut dibawa pulang ke kota Malang. Mau dibawa pakai sangkar tampak ribet, apalagi perjalanan antara Gresik dan Malang lumayan jauh. Akhirnya teman saya tadi membeli kardus yang press body untuk membawa cendet tadi. Dimana dengan kardus khusus burung tersebut, burung tidak akan bisa berkutik karena saking sempitnya. Disinilah wujud keberhasilan saya, saat teman saya sampai tujuan (Malang), akhirnya cendet kembali di taruh di sangkar. Begitu sangkar digantungkan, “mantan” cendet saya langsung berkicau dari pagi hingga sore tanpa bosan. Ini membuktikan bahwa cendet tersebut sudah anti stress dan memiliki stamina yang prima. Bahkan saya mendengar kabar sebulan kemudian, bahwa cendet tersebut laku Rp.800.000,- di Pangandaran (Jawa Barat). Mungkin kalau pernah ikut kontes dan juara bisa bernilai jauh lebih mahal. Memang teman saya tadi bukanlah orang yang hobi burung, melainkan hobi makelar. Pantesan habis beli langsung dijual lagi dengan harga yang lebih mahal. Sayangnya saya tidak memiliki foto kenangan cendet tersebut, karena hasil fotonya saya simpan di micro SD card, tetapi micro SD tersebut akhirnya rusak sehingga saya kehilangan file-file fotonya.



Demikian tips dari saya, semoga bisa menjadi masukan atau inspirasi bagi anda untuk melatih cendet. Untuk tips terakhir (no.5), saya yakin hal tersebut bisa diterapkan pada burung-burung lainnya. Cukup pastikan kalau burung yang hendak dilatih dengan cara tersebut sudah jinak alias ada kemungkinan mau masuk ke sangkar tanpa perlu menangkap dengan tangan, entah dipancing pakai sesuatu atau makanan favorit burung tersebut. Selamat mencoba!

Sumber : Artikel seorang teman. 
Share this case:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Donasi

Radio Streaming Herdinbisnisdotcom


Get the Flash Player to see this player.


MENYIMAK di WINAM