.

.

Sabtu, 06 November 2010

Written on

Diskusi Statuta Penyuluhan Pertanian Kita

Diskusi ini diawali dari posting catatan Facebook pada  thread berikut

Quo Vadis Penyuluhan Pertanian Kita


Pada hari Jumat (17/09/2010) yang lalu seorang petani Karawang mengeluh dalam rubrik Surat Pembaca Kompas. Ia menyayangkan penanganan pertanian sawah oleh pemerintah saat ini. Beliau membandingkannya dengan era tahun 80-an yang lalu. Pada masa itu Indonesia mengalami swasembada beras, hal yang sama telah diraih oleh pemerintahan SBY saat ini sebenarnya. Penyuluhan pertanian yang intensif disertai dengan penggunaan pupuk kimiawi serta anjuran lainnya dalam Panca Usaha Tani konon merupakan resep sukses swasembada beras pada masa itu.

Pada tahun 1984 saat swasembada beras dicapai jumlah desa kita masih sekitar 66 ribu dan kini telah menjadi 70 ribu, demikian halnya dengan jumlah penduduk yang terus meningkat. Kebutuhan pangan pun meningkat sejalan dengan hal ini. Waduk dan jaringan irigasi dibangun dan diperluas terus. Gedung Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dibangun dimana-mana demikian pula dengan jumlah personel peneliti dan penyuluh pertanian yang ditambah sampai ke daerah-daerah. Kegiatan kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa (klompencapir) digalakkan.

Namun berbeda kondisinya dengan saat ini. Petani tersebut menyebutkan bahwa puluhan ribu hektar sawah di Karawang Utara mengalami keterlambatan tanam. Secara masif memang gejala perubahan iklim ini terjadi dimana-mana. Banyak ahli yang menyatakan terjadinya pergeseran musim ini disebabkan karena fenomena global warming. Bahkan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan di atas normal akan berlangsung hingga bulan Januari 2011. Akibat pengaruh tersebut memberikan peluang majunya awal musim hujan tahun 2010/2011 di sebagian daerah di Indonesia dengan sifat hujan normal dan di atas normal. Kondisi ini disebabkan oleh pengaruh La Nina serta pengiriman massa uap air dari Lautan India ke wilayah Indonesia yang memasuki musim penghujan sehingga intensitas hujan akan bertambah. Suhu permukaan laut hingga pertengahan Agustus ini di sebagian perairan Indonesia relatif hangat dengan anomali suhu 0,2 sampai 1,5˚C. Bahkan diprediksi hal ini akan terus terjadi sampai bulan Desember 2010.

Perubahan iklim membawa dampak yang signifikan terhadap dunia pertanian. Sedangkan antisipasi terhadap fenomena ini perlu secara jujur kita akui agak terlambat dilakukan. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Kementrian Pertanian telah berupaya melakukan inovasi dalam rangka menghadapi persoalan yang kompleks ini seperti dengan introduksi varietas padi dan teknologi budidaya lainnya yang memiliki tingkat emisi karbon yang rendah. Namun masih banyak kendala di lapangan seperti SDM pelaku utama yang masih rendah, kelembagaan petani yang masih belum tertata serta problem lainnya yang terkait dengan proses adopsi inovasi teknologi untuk mengurangi efek pemanasan global. Kondisi ini juga diperparah dengan kenyataan bahwa global warming saat ini telah memasuki fase munculnya dampak-dampak meskipun dalam skala yang kecil. Upaya untuk mereduksi pengaruhnya pun tentu saja memerlukan waktu dan dukungan dari semua pihak dalam skala yang luas bahkan global.

Adapun hal sederhana yang bisa dilakukan oleh petani dan kelompok tani adalah dengan semakin intensif menyelenggarakan pertemuan kelompok di awal musim tanam. Hal ini penting sebagai wahana koordinasi antara penyuluh pertanian yang jumlahnya masih terbatas ini dengan pelaku utama. Dalam pertemuan ini biasanya dilakukan sosialisasi terkait dengan prediksi kondisi cuaca untuk musim tanam yang akan dihadapi. Di wilayah binaan kami ternyata dengan pola ini pelaku utama bahkan dengan pihak swasta mampu menyiapkan langkah-langkah antisipatif seperti pembuatan saluran melingkar di sekitar bedengan sawah agar air hujan yang berlebihan masuk dapat segera mengalir ke luar dan tidak mengganggu pertumbuhan tanaman jagung.

Dari sisi internal penyuluh pertanian sendiri juga masih mengalami banyak hambatan untuk mengoptimalkan kinerjanya di lapangan. Seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor beberapa waktu yang lalu merilis hasil kajiannya dalam mencari faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi motivasi kerja para penyuluh pertanian. Beliau menemukan fakta yang menarik. Motivasi kerja penyuluh pertanian sangat dipengaruhi oleh kejelasan status, insentif kepangkatan, penilaian angka kredit serta aspek kesejahteraan. Kondisi ini berhubungan erat dengan upaya pemerintah dalam revitalisasi penyuluhan pertanian. Melalui UU Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang ditetapkan pada tahun 2006 yang lalu proses penataan ini sedang berlangsung. Perlahan tetapi pasti kebijakan untuk mewujudkan kondisi dimana 1 (satu) desa terdapat 1 (satu) penyuluh yang profesional ini bergulir dan mendapatkan apresiasi dari pelaku utama kita. Termasuk dalam tulisan petani dari Karawang tersebut terdapat harapan sekaligus doa agar proses revitalisasi ini tidak terhenti karena dianggap pekerjaan penyuluhan pertanian telah usai dengan tercapainya swasembada beras beberapa waktu lalu. Perubahan iklim saat ini telah menjadi momok kegelapan baru bagi pertanian dan membutuhkan cahaya terang dari penyuluh dan sistem penyuluhan pertanian kita. Semoga.

M. Bahtiar Arifin, S.Pt.
Aktivis The Climate Project Indonesia dan Humas Forum Komunikasi Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian se-Jawa Timur.

Dan agaknya menjadi lebih terkonsentrasi karena suasana emosional lebih dominan, menghadapi harapan dan tantangan-  berikut tanggapan yang akhirnya muncul, diantaranya :

Dialektika Konsep Whitehead:Sebuah Proyeksi itu Layak atau tidakkah dipublikasikan ?. Ini Soal Statuta.


Dialektika Konsep Whitehead:Sebuah Proyeksi itu Layak atau tidakkah dipublikasikan ?. Ini Soal Statuta, Penyuluh adalah Pendidik ataukah hanya Pelaksana Proyek ?. (menjawab posting dalam catatan Bahtiar Effendi : http://tinyurl.com/QuoVPP)

http://tinyurl.com/QuoVPP

Coba Anda cermati catatan tersebut. Kutipan itu diambil dari satu orang diantara sekian juta orang Indonesia yang berprofesi sebagai Petani dan pelaku pertanian di Indonesia. Secara tegas dikatakan bahwa keadaan ini adalah keadan yang hitam dan putih. Dulu dan sekarang. Walaupun di belakang tampak ada evaluasi melengkapinya. Bagaimana sebuah kebijakan merupakan tahta yang bisa mempengaruhi seorang Penulis untuk MEMPERTANYAKAN  reputasi sebuah Statuta dari Konsep Penyuluhan di Indonesia. Ini jelas merupakan suatu bentuk Dessosiasi yang amat sangat mempengaruhi dan akan berdampak sangat sporadis dalam benak orang-orang Republik dan bahkan manusia-manusia Pertanian di manapun juga.  Dampaknya akan mengalir liar dan benar-benar menjadi relung yang akan tertancap dalam, sebab tidak semua mereka adalah orang-orang yang mengerti konsep dan mengerti Profesi penyuluh. Desosiasi yang sama dan akan terjadi pada kita yang sudah lepas dan tidak lagi dikendalikan dalam ranah PENDIDIK.

Pangan, atau apalah padanan katanya. Adalah sebuah kebutuhan. Doa seorang nabi dalam konsep Muslim bahkan mengharapkan sebuah kota Suci - KAYA karena datangnya Pangan (biji/buah yang nikmat dan bisa  dimakan).

Untuk bisa menghasilkan Pangan yang essensial bagi hidup dan kehidupan manusia, tidak serta merta datangnya. Ilmu dan konsep serta pernak-perniknya tidak bisa melangkah dengan sendirinya. Perlu uji coba dan ini adalah sebuah perjalanan yang tanpa akhir. Segelintir orang hanya memikirkan apalah yang sudah dirasakan dan siapa yang sedang melaksanakan. Membanding-bandingkan itu bukan saat yang tepat sekarang. Baru ada 60 ribuan orang muda yang sedang baru menyelami profesi ini , dan ini sekarang dipertanyakan . Ini proses Desosiasi atau ini pertanyaan terhadap Penguasa ?.


Logika proses itu harus ada memang. Bahkan bagi semua kita, yang membaca, merespon, merasakan bahkan yang hanya menyaksikan gejala yang dijalankan oleh keadaan terkendali dan terproyeksi seperti sebuah Kebijakan Pertanian Indonesia. Jangan menangis dulu, jangan bersikap sama seperti yang sudah dirasakan dan dipertanyakan oleh Pelaku pertanin ini terhadap Profesi kita. Dalam konsep perjanjian Syariah, kontrak kita sebagai Penyuluh Pertanian adalah dalam ranah as-Salam. Ada yang pesan dan kita yang melaksanakan. Apa yang dipesan ? Kuantitas dan Kualitas Pangan dan produk-produk yang bisa dinikmati seluruh khalayak  yang berjiwa  dan bernafas, tidak hanya dimuka bumi pertiwi tapi bahkan diseluruh belantara dunia dimanapun manusia ada harus ada, nyaman, ergonomis atau apalah padanan katanya. Bagaimana kita melaksanakan ?. Bersama-sama petani dan semua pelaku pertanian bersama-sama berlaku dalam satu proses. Nilai apa yang harus diusung ?. Penghormatan, respek dan motifasi agar Pelaku utama pertanian yakni Petani itu sendiri dan orang-orang itu bisa jalan dalam jalurnya. Metode Ekspos dana paham Modernisme dan metode apapun itu memang akan berbenturan dan mengalami pengasahan, apalagi jika kita memahami konsep Populisme. Sebagai sebuah cabang dari konsep Modernisme, dan telah berhasil dikaji dalam ranah Postmodernisme, populisme (budaya Pop) adalah keyword ampuh untuk mempenetrasi inovasi dan transfer teknologi. SLI, Demplot, SLPTT, Cyber extentional, dan bentuk-bentuk terproyeksi lainnya.

Populisme inilah yang saat ini menjadi alat saya dan semua pelaku pertanian yang berprofesi PENYULUH. Seorang yang berprofesi, seperti seorang anak umur 6 tahun yang baru diberi tahu tentang hape, dibelikan  hape dan berproses  hingga menjadi seorang facebooker. Dia beranjak dari seorang yang baru tahu bagaimana memegang dan menghidupkan hape  hingga menjadi seorang yang sudah tahu bagaimana menggubah catatan dalam Facebooknya. Essensi yang sedang saya ingin sampaikan adalah.. kita ini masih muda, jangan dulu kita dibuat menangis sedangkan kita sekarang frustasi karena semua orang sudah capek . .... ups maaf. Saya tidak berfikiran agar ini harus dieksklusifikasi dan saya bukannya tidak setuju ada inklusifikasi konsep-konsep ini dalam rahim facebook ini. Tapi saya koq tau, betapa indahnya kita jika kita sepakat saja.... Penyuluhan itu adalah tempat kita berprofesi.. dan semua orang respek terhadap penyuluh dan mengerti Profesi ini memang harus prestisius dan kita tidak bisa bekerja tanpa penghargaan, gaji yang besar, fasilitas, kehormatan, kebebasan berkreasi dan berTeknologi Pendidikan.

Maafkan saya sudah emosional Sobat. Andai kalian tahu apa yang saya rasakan sekarang.... Sungguh Allah Swt. Maha Perencana.

KHAIRDIN PRAMANA JAYA, SP, MPD.
THL TB PENYULUH PERTANIAN WKPP MLANDINGAN III
KABUPATEN SITUBONDO JAWA TIMUR
Share this case:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Donasi

Radio Streaming Herdinbisnisdotcom


Get the Flash Player to see this player.


MENYIMAK di WINAM