herdinbisnis.com: Ulasan Norma Agama, Memaknai Orang Munafik

.

.

Sabtu, 12 November 2011

Written on

Ulasan Norma Agama, Memaknai Orang Munafik



Dalam sebuah hadits Rosulullah Saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh disebutkan bahwa tanda-tanda orang munafik adalah: (1) jika ia berkata maka ia berbohong, (2) jika ia berjanji maka ia inkar, (3) dan jika ia diberi amanah maka ia berkhianat. Tiga hal tersebutlah yang kemudian populer disebut sebagai ciri-ciri atau tanda-tanda kemunafikan.




Salah satu tanda kemunafikan seseorang adalah kebohongan. Apa-apa yang ia omongkan berisi banyak kebohongan. Perkataan yang ia sampaikan tidak bisa dipercaya. Mungkin dalam keseharian, kita sering menumui orang yang seperti ini. Dan tanpa alasan agamapun kita pastinya berhati-hati dengan perkataannya.




Tanda berikutnya dari kemunafikan ialah janji yang tidak bisa dipegang. Ketika bertemu dengan satu orang ia berjanji A. Ketika bertemu dengan orang lain ia akan berjanji lagi. Dan begitu seterusnya. Tapi janji-janji yang ucapkan jarang sekali ditepati. Bahkan ketika orang sudah tidak lagi percaya dengan janjinya, ia tidak segan bersumpah atas nama Tuhan.


Sedang tanda terakhir adalah tidak menjalankah amanah yang diberikan atau amanah yang dia pegang. Ketika diminta untuk menyampaikan suatu pesan kepada seseorang ia tidak menyampaikannya. Ketika mendapatkan amanah untuk menduduki posisi tertentu ia tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Padahal tidak jarang amanah tersebuat ia rebut dengan susah payah. Artinya amanah tersebut tidak didapat secara percuma, tapi didapatkan karena ia berjuang untuk mendapatkannya.





Memaknai Tanda Kemunafikan




Dari ceramah atau khotbah yang disampaikan oleh para kyai, muballigh, ulama dsb, banyak disampaikan bahwa orang munafik adalah orang yang mengaku menganut agama Islam atau Muslin tapi ternyata berpihak kepada musuh kaum muslim. Dalam bahasa lain orang munafik diartikan sebagai manusia bermuka dua.


Dalam sejarahnya orang munafik memang diceritakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengaku menganut ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw tapi sering "keluar barisan". Salah satunya adalah mereka tidak mau ikut perang, dan bahkan mempengaruhi yang lain untuk tidak ikut perang. Maka dari itu mereka bisa dikatakan sebagai Musuh Dalam Selimut.

Kalau dicermati, maka sekilas penjelasan tentang orang munafik adalah orang yang tidak jelas keperpihakannya, berpihak ke kita atau berpihak ke musuh. Orang-prang seperti ini tentu berbahasa bagi sebuah komunitas yang jelas-jelas menghadapi musuh, seperti masyarakat pada jaman Nabi Muhammad Saw. Mereka bukan saja Musih dalam Selimut, tapi juga merupakan Duri dalam Daging masyarakat yang dibina oleh Muhammad Saw.

Artinya konsepsi kemunafikan lebih bersifat sosiologis dan politis, bukan sebagai konsep agama. Dan dalam konteks sosial inilah saya tergugah untuk ingin menyampaikan kalimat-kalimat ini untuk membicarakannya bersama Anda.

Kembali ke persoalan Tiga Tanda-Tanda Orang Munafik di atas. Tanda kebohongan, ingkar janji, dan khianat terhadap amanah akan lebih pas kalau dikaitkan dengan konteks sosiologis dan politis, walaupun bukan berarti tidak bisa dibawa ke persolan agama. Artinya, kalaupun di bawa ke persoalan agama maka itu masuk pada wilayah keagamaan yang bersifat umum, bukan ibadah mahdhoh.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dituntut untuk waspada kepada orang-orang yang mempunyai tiga sifat tadi. Kalau tidak, maka kita akan gagal membangun kehidupan dunia kita. Apa yang akan kita lakukan ketika kita menemui pedagang yang mempunyai tiga sifat di atas? Tentu kita tidak lagi bisa percaya padanya.

Ketika kita membuka suatu usaha, misalnya membuka warung kopi, apakah kita akan menyerahkan pengelolaannya kepada orang yang sudah terbukti tidak pernah serius menangani sebuah usaha yang dipercayakan kepadanya? Apakah kita akan mempertahankan pegawai yang sering berbohong dalam memberikan informasi perkembangan warung tersebut? Apakah kita akan percaya pada orang yang berhutang di warung kita dan selalu berjanji untuk melunasi hutang atau membayar sehabis menyeruput kopi tapi tidak pernah memenuhi janjinya tersebut?

Saya kira kita semua tahu jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan di atas juga untuk berlaku untuk hal-hal yang lain, termasuk berlaku untuk politik. Ketika melihat para elit politik kita perlu melihatnya secara kritis dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas.

Semoga kita tidak diperdaya oleh orang-orang munafik...
Semoga kita tidak berlaku bak layaknya orang-orang munafik...

Sekian
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!