.

.

Selasa, 03 Januari 2012

Written on

TIPS dan TRIK : Teknik Pengembangan Agens Hayati Trichoderma sp.

Pada tulisan sebelumnya kita sudah memahami karakterisktik dan fungsi dasar dari agens hayati Trichoderma, sekarang kita akan membahas tentang metode pengembangan Trichoderma secara sederhana. Dengan bahan yang mudah dan murah sehingga teknologi ini dapat diaplikasikan oleh petani secara mandiri. Tentu dengan dorongan para sahabat tani. Sebenarnya ada beberapa metode dalam pengembangan jamur ini, kali ini saya nukilkan metode yang dilakukan oleh Ditjen Perkebunan Departemen Pertanian.





Alat:
1. Dandang sabluk
2. Kompor Gas / Kompor minyak
3. Bak plastik
4. Plastik meteran (dijual dalam bentuk lembaran)
5. Entong kayu.

Bahan:
1. Sekam
2. Bekatul (dedak)
3. Air
4. Alkohol 96 %.
5. Isolat (bibit) jamur Trichoderma.

Cara perbanyakan massal jamur Trichoderma

1.    Campurkan media (sekam dan bekatul) dengan perbandingan 1:3 dalam bak plastik.
2.    Berikan air kedalam media tersebut kemudian aduk sampai rata.
3.    Tambahkan air sampai kelembaban media mencapai 70 % (dapat di cek dengan meremas media tersebut, tidak ada air yang menetes namun media menggumpal)
4.    Masukkan media kedalam kantong plastik.
5.    Siapkan dandang sabluk untuk menyeteril media.
6.    Isi dandang sabluk dengan air sebanyak 1/3 volume dandang.
7.    Masukkan media kedalam dandang sabluk
8.    Sterilkan media dengan menggunakan dandang sabluk selama 1 (satu) jam set setelah air mendidih. Sterilisasi diulang 2 (dua) kali, setelah media dingin sterilkan kembali media selama 1 jam. Sterilisasi bertingkat ini bertujuan untuk membunuh mikroorganisme yang masih dapat bertahan pada proses sterilisasi pertama.
9.    Tiriskan media di dalam ruangan yang lantainya telah beralas plastik.
10.    Sebelum digunakan semprot alas plastik menggunakan Alkohol 96%.
11.    Ratakan permukaan media dengan ketebalan 1-5 cm.
12.    Semprot media dengan suspensi jamur Trichoderma (isolat jamur Trichoderma yang telah dilarutkan kedalam air, 1 (satu) isolat dilarutkan dengan 500 ml air)).
13.    Tutup dengan plastik lalu inkubasikan selama 7 (tujuh) hari. Ruangan inkubasi diusahakan minim cahaya, dengan suhu ruangan berkisar 25-27 derajat celcius.
14.    Amati pertumbuhan jamur Trichoderma, jamur sudah dapat dipanen setelah seluruh permukaan media telah ditumbuhi jamur Trichoderma, (koloni jamur berwarna hijau).

 Agar proses pengembangan berhasil, anda harus memperhatikan beberapa kunci keberhasilan perbanyakan massal jamur Trichoderma ini:
1.    Aseptisitas proses produksi, artinya petani selaku pembuat harus mengetahui titik-titik kritis dimana proses produksi harus dilakukan secara aseptis (higienis). Penyiapan dan proses sterilisasi media merupakan titik kritis pertama yang harus diperhatikan.
2.    Kualitas isolat jamur Trichoderma, isolat jamur Trichoderma yang diperbanyak secara massal harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya jumlah dan viabilitas spora tinggi, umur biakan tidak lebih dari 3 (tiga) bulan dan isolat dalam keadaan segar (baru dipindahkan ke media yang baru). Isolat dapat diperoleh di Laboratorium Agens Hayati terdekat
3.    Inkubasi. Ruangan inkubasi harus mendukung pertumbuhan jamur Trichoderma. Intensitas cahaya, suhu dan kelembaban ruangan harus diatur sedemikian rupa agar pertumbuhan jamur berjalan optimal.

Aplikasi:
Untuk mengendalikan penyakit kuning pada tanaman lada dan busuk batang pada pangkal batang panili dengan cara sebagai berikut:
1.  Buat alur melingkar dari leher akar di tanah sekitar tanaman yang sakit dengan jarak:
     a. Tanaman karet : 50 -70 cm
     b. Tanaman lada   : 30 – 40 cm
     c. Tanaman vanili   : 20 – 25 cm
2.  Taburkan biakan jamur hasil perbanyakan dengan dosis:
     a.  Tanaman karet : Bibit di polibag ± 50 gram/pohon; Tanaman muda ± 100 gram/pohon;                           Tanaman    dewasa ± 150 gram/pohon
     b.  Tanaman lada          :  ± 50 – 150 gram/pohon
     c.    Tanaman vanili        :  ± 100 -150 gram/ tahun
3.  Tutup kembali alur yang telah diisi dengan tanah bekas galian.
4.  Dianjurkan ditambah dengan serasah dan diaplikasikan pada kondisi kelembapan yang cukup.
5. Apabila jamur diaplikasikan pada tanah yang basa (pH lebih dari 6) diperlukan serbuk belerang dengan dosis yang disesuaikan dengan keadan tanah. Untuk preventif sebaiknya ditaburkan 50 gram/pohon dan ditabur melingkar 50 cm dari leher akar.

Lakukan aplikasi dengan Hati,  itikadkan bahwa kita hanya mengendalikan populasi organisme pengganggu tanaman (OPT) bukan “membasmi”nya dengan teknik tersebut OPT dapat dikendalikan dengan baik, dan hasil panen dapat optimum, tentunya harus senantiasa bersyukur atas karunia dari Allah pencipta Alam Semesta. Salam lestari!
Share this case:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Donasi

Radio Streaming Herdinbisnisdotcom


Get the Flash Player to see this player.


MENYIMAK di WINAM