.

.

Sabtu, 04 Februari 2012

Written on

Artikel Budaya : Ekonomi Kreatif Berbasis Kebudayaan

Perkembangan ekonomi kreatif di masing-masing  negara dibangun kompetensinya sesuai dengan kemampuan yang ada pada negara tersebut. Terdapat beberapa arah pengembangan industri kreatif yang lebih menitikberatkan pada industri berbasis: 
(1) lapangan usaha kreatif dan budaya (creative cultural industry); 
(2) lapangan usaha kreatif (creative industry), atau 
(3) Hak Kekayaan Intelektual seperti hak cipta (copyright industry). 



Disamping itu, ekonomi kreatif menurut New England Foundation of the Arts (NEFA): ''represented by the 'cultural core.' It includes occupations and industries that focus on the production and distribution of cultural goods, services and intellectual property''. Represente by the "cultural core" itu artinya kurang lebih seperti ini : Ini mencakup Pekerjaan dan Industrinya lalu hal tersebut fokus dan mengarah pada produksi dan distribusi produk budaya, produk jasa dan kekayaan intelektual.

Tentunya merupakan pertanyaan penting antara hubungan keduanya, bagaimana budaya dapat berkembang sejalan dengan penerapan ekonomi kreatif. Semakin pentingnya peran ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional serta karakteristik Indonesia yang terkenal dengan keragaman sosio-budaya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara tentunya dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering dalam melakukan pengembangan industri kreatif. Keragaman yang dicirikan pula oleh kearifan lokal masyarakat setempat dalam menjaga kelestarian budaya telah berlangsung antar generasi.

Daniel Pink dalam bukunya,”The Whole New Mind” (2006) menjelaskan bahwa sektor kreatif yang dikembangkan di negara maju sulit ditiru oleh negara lainnya karena lebih menekankan kemampuan spesifik yang melibatkan kreativitas, keahlian dan bakat; seperti aspek art (seni), beauty (keindahan), design (desain), play (permainan), story (cerita atau penuturan), humor (humor), symphony (simponi), caring (kepedulian), empathy (empati) dan meaning (pemaknaan) 

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas SDM yang diperlukan adalah manusia yang berkarakter dan kreatif. Di dukung pula Richard Florida yang mengklasifikasikan industri kreatif bernuansa akademik (sekolah, kampus-kampus atau universitas), berorientasi teknologi (tech-pole), bernuansa artistik (bohemian), pendatang (imigran/keturunan etnis tertentu), disamping itu Florida menekankan pula 3T (Talent (Bakat), Tolerance (Toleransi) and Technologx (Teknologi)).


Lalu, bagaimana dengan kondisi Indonesia yang memiliki peninggalan warisan budaya yang beragam dari sabang hingga merauke? Warisan budaya yang kita miliki didalamnya pun memiliki banyak nilai kreatifitas yang menekankan pada aspek art, beauty, social, empathy, ceremony, dll. Keragaman budaya tersebut menandakan tingginya kreatifitas yang telah tertanam dalam masyarakat Indonesia yang mencirikan keahlian spesifik dan talenta yang dimiliki. Keragaman budaya tersebut didukung pula oleh keragaman etnis dalam masyarakat Indonesia. Indonesia pun memiliki beragam bahasa yang dipersatukan oleh bahasa Indonesia. Keragaman tersebut dapat hidup berdampingan karena tingginya toleransi yang dimiliki. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki faktor pendukung yang powerfull dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif.

Budaya atau kebudayaan, umumnya diasosiasikan dengan keseniaan seperti seni musik, seni tari, seni lukis, dll, atau sering diasosiakan pula dengan kebiasaan yang berlaku di suatu masyarakat. 

Namun, asosiasi tersebut merupakan unsur pembentuk kebudayaan yang justru mempersempit makna kebudayaan itu sendiri. Definisi kebudayaan memiliki makna yang lebih luas. 

Kebudayaan yaitu suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Clifford Geertz menekankan kebudayaan sebagai sekumpulan ide dan proses kreatif dari akal budi yang diwariskan kemudian mewarnai kehidupan sebuah kemasyarakatan. Walaupun definisinya berbeda-beda namun terdapat kesamaan yaitu ciptaan manusia sesuai dengan peradabannya. Dimana, Peradaban menciptakan kebudayaan, kemudian kebudayaan menciptakan perangai manusia. Begitupula sebaliknya, manusia menciptakan kebudayaan dan kebudayaan pada akhirnya membentuk peradaban itu sendiri.

Budaya terbentuk dari berbagai unsur yang rumit didalamnya, termasuk sistem agama, politik, adat-istiadat, bahasa, perkakas/teknologi, pakaian, bangunan serta karya seni. Bahasa dan Budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap diri manusia sehingga sering dianggap sebagai warisan genetis. Budaya merupakan pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak serta luas yang  terpolarisasi dalam suatu citra yang khas. Citra yang memaksa itu mengambil bentuk yang berbeda dalam berbagai budaya seperti individualisme di Amerika, keselarasan individu dengan alam di Jepang dan kepatuhan kolektif di Cina. Citra budaya yang bersifat memaksa membekali orang didalamnya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat digunakan oleh orang-orang untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Wujud dari suatu kebudayaan menurut Hoenigman yaitu gagasan, aktifitas dan artefak. Wujud ideal kebudayaan adalah kumpulan ide, gagasan, nilai dan sebagainya yang bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan itu terletak di dalam kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat yang terwujud dalam aktifitas dan tindakan berpola dari masyarakat. Sedangkan, wujud fisiknya berupa artefak dari hasil akfitas, perbuatan dan karya yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan. Dalam kenyataannya, wujud kebudayaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.

Wujud kebudayaan daerah yang tersebar tersebut yaitu Rumah Adat, tarian, musik, alat musik, gambar, patung, pakaian, suara, satra/tulisan dan makanan. Dimana wujud kebudayaan tersebut mencirikan kreatifitas yang tertanam di dalamnya sdrta didukung oleh lingkungan kreatifitas yang berlangsung antar generasi. Bila perkembangan industri kreatif memiliki basis kebudayaan tentu akan menjadi sumber inpirasi terus-menerus. Ke-14 subsektor industri kreatif (periklanan; arsitektur; pasar dan barang seni; kerajinan; desain; fesyen; film, video ; fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan; percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi dan radio; riset; pengembangan) dapat dikembangkan dengan keragaman budaya yang ada serta saling mendukung karena faktor pendukung yang telah tercipta dalam kebudayaan.

Berbagai usaha pemanfaatan warisan budaya tradisional, selain dapat melestarikannya juga menjadi kebanggaan terhadap identitas Bangsa. Disamping itu, diperlukan pula pemanfaatan teknologi informasi yang tepat guna sebagai faktor pendukung yang tak kalah penting. Perkembangan teknologi informasi yang cepat belakangan ini merupakan peluang dalam melakukan sintesis terhadap kebudayaan. Sehingga perkembangan ekonomi kreatif akan menjadi kekuatan yang mengakar karena didukung kebudayaan dan perkembangan teknologi informasi.


source : Ekonomi Kreatif Berbasis KebudayaanPenulis: bastian.sims , January 03, 2012
Share this case:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Donasi

Radio Streaming Herdinbisnisdotcom


Get the Flash Player to see this player.


MENYIMAK di WINAM