herdinbisnis.com: Sehari Tanpa Nasi ?, Jargon Anjuran Pilihan Herdinbisnis untuk Anda

.

.

Minggu, 19 Februari 2012

Written on

Sehari Tanpa Nasi ?, Jargon Anjuran Pilihan Herdinbisnis untuk Anda



Ketika saya bergerak melangkah melewati pematang-pematang sawah di sebuah Desa Hutan yang 25 % arealnya adalah Sawah dan Tegal serta sisanya adalah Hutan saya melihat cukup banyak tanaman liar yang tumbuh disana. Sepertinya tanaman itu memang tidak benar-benar liar, sebab ternyata di suatu tempat saya menemui 3 karung beras berisi Umbi Talas. Dan dibeberapa lainnya saya menemui tanaman Shobeg (iles-iles)  yang juga tumbuh liar dan jumlahnya cukup banyak. Saya sejenak kemudian menggali beberapa dan membakarnya sendirian di hutan itu. Saya tidak kelaparan, karena ternyata disana saya juga menemukan Bayam-bayam berwarna merah dan hijau. Beruntung saya merokok, jadi saya bisa menghidupkan bara api dengan segera. Teringat dengan hal tersebut, berikut saya kutipkan suatu kebijakan baru yang sinergi dengan keadaan yang saya alami dan sebuah dokumentasi dari sebuah BPP di Situbondo, Balai Penyuluhan Pertanian Demung, di kebun belakang kantor- menanam lebih kurang 10 ragam tanaman-tanaman yang umbi-umbinya bisa menjadi pengganti beras, seperti Iles-iles, Gadung, Ubi Jalar, Talas, Garut, Ganyong dan sebagainya.

Kota Depok baru-baru ini menggulirkan gerakan sehari tanpa nari dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional. Menurut Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail seperti dikutip Republika, "Kami tidak mengajak tidak makan nasi sepanjang hari, hanya satu hari saja dengan tujuan penganekaragaman pangan dan mengurangi konsumsi beras demi menjaga ketahanan pangan nasional."


Pemerintah Kota Depok mulai menerapkan program gerakan satu hari tanpa nasi dalam satu minggu, yaitu setiap Selasa, bagi pegawai negeri sipil setempat. 




Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menjelaskan lebih lanjut, tidak ada larangan soal makan nasi. Yang lebih penting adalah mengimbau agar unsur nasi diganti menjadi ubi, singkong, jagung, dan sebagainya. "Berlatihlah untuk mengurangi konsumsi nasi. Semua dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan kita," kata dia seperti dikutip Republika di Kota Depok.



Kritik sudah muncul akan imbauan ini. Salah satunya adalah, jika masyarakat diminta untuk tidak mengonsumsi nasi dalam sehari, apakah sudah tersedia cukup sumber karbohidrat lainnya di pasaran untuk mengganti nasi tersebut?



Di saat bersamaan, ajakan tersebut bisa mengirim sinyal yang tepat dari pihak pemerintah (meski masih di skala daerah), bahwa ada masalah dalam pemenuhan kebutuhan pangan kita yang sangat tergantung pada beras. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Jakarta Food Security Summit, 8 Februari lalu, menyatakan perlunya ada inovasi dari bidang usaha untuk menekan konsumsi beras. 



Jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah otomatis akan meningkatkan permintaan akan pangan. Sementara, lahan-lahan pertanian terus tergerus dan berubah fungsinya. 



Di atas semua itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mentargetkan agar Indonesia bisa mengalami surplus produksi beras sebesar 10 juta ton pada 2014. Saat ini, surplus beras di Indonesia hanya 3,5 juta ton.



Ancaman perubahan iklim pun membuat musim tanam menjadi berubah, kemarau bisa jadi lebih panjang, musim hujan bisa jadi lebih dahsyat. Akibatnya, tanaman pangan pun terancam gagal panen. Hasil produksinya pun menjadi lebih sulit diprediksi. Harga-harga bahan pangan dunia pun terus naik. Tak heran jika dunia, bukan hanya Indonesia, terancam krisis pangan.



Dengan semua permasalahan itu, menurut Anda, tepatkah ajakan Pemerintah Kota Depok untuk mengurangi konsumsi nasi? Apakah gerakan ini patut menjadi sebuah gerakan nasional? 



Jika Anda setuju, apa alasan Anda? Apa keberatan Anda jika gerakan sehari tanpa nasi ini menjadi gerakan nasional? Cara lain apa, menurut Anda, yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah ketahanan pangan di Indonesia?



Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!