herdinbisnis.com: Alat-alat Bantu Ilmu Pengetahuan : Bidang Arkeologis

.

.

Senin, 16 April 2012

Written on

Alat-alat Bantu Ilmu Pengetahuan : Bidang Arkeologis


Alat-alat bantu llmu Pengetahuan belum semua orang tahu. Diantara alat-alat bantu yang digunakan manusia, adalah di bidang  Arkeologi, Geografi, Pertanian dan sebagainya. Semoga dapat menyajikan dalam beberapa seri, berikut salah satu kutipan catatan, khususnya untuk kepentingan Arkeologis.


Di masa lampau para arkeolog sering menemui kesulitan dalam memetakan situs purba atau benda prasejarah yang terkubur di perut bumi. Kini pekerjaan menjadi lebih mudah. Itu berkat gadget dan teknologi canggih, seperti pencitraan satelit, pemetaan laser udara, robot, dan alat pemindai tubuh.

Bahkan, dari luar angkasa sekalipun, para arkeolog mampu menemukan piramida yang terkubur, membuat peta 3D dari reruntuhan Maya kuno, atau menemukan bukti penyakit jantung pada mumi berusia 3.000 tahun.


Berikut ini alat-alat bantu yang biasanya digunakan para arkeolog:

1. ROBOT PENJELAJAH

Robot ini mampu merangkak ke dalam poros Piramida Agung Giza di Mesir. Arkeolog berharap robot cerdas tersebut lebih fleksibel di masa depan. Carnegie Mellon University sedang mengembangkan robot ular yang dapat menyelusup ke dalam gua buatan manusia dengan potongan kapal kuno di Hurghada, Mesir.

2. LIDAR

Light Detection and Ranging atau LIDAR merupakan teknologi yang mengubah arkeologi dalam beberapa  tahun terakhir. Ditempatkan di pesawat terbang, jutaan laser menembus kanopi hutan lebar untuk memetakan gambar 3D. Teknologi ini dapat mengukur perbedaan ketinggian tanaman dan mengungkap fitur yang terkubur dalam bangunan.

3. PENCITRAAN SATELIT

Untuk menggali harta karun (lebih tepat disebut benda cagar budaya, ed.), para arkeolog kini dibantu gambar visual yang disusun Google Earth atau citra radar NASA (Lembaga Aeronautika Amerika Serikat).

Citra satelit inframerah telah mengungkap adanya piramida, jalan, dan istana serta sungai di bawah Gurun Sahara. Citra radar mampu mendeteksi fitur terkubur sekecil 0,4 meter dan sedalam 10 meter.

4. RADAR, MAGNETOMETER, DAN UJI RESISTIVITAS TANAH

Sebelum melakukan penggalian, arkeolog mendapat informasi tentang bagian bawah permukaan dengan beragam teknologi. Instrumen tersebut menciptakan gambar 3D. Radar penembus tanah menggambarkan bahan apa yang terkubur.

Magnetometer mendeteksi artefak terkubur. Instrumen resistivitas menangkap fitur terkubur berdasarkan perubahan mendadak dalam arus listrik seperti berjalan melalui kelembapan tanah

5. ISOTOP GEOKIMIA

Sisa tulang mengungkap pemilik tengkorak pada abad pertengahan yang ternyata menderita penyakit kusta. Tulang dapat memberi tahu banyak kehidupan manusia masa lalu ketika arkeolog menerapkan analisis kimia yang tepat. Radio isotop dapat mengungkap diet masyarakat kuno.

6. TES DNA DAN PEMINDAI

Pengujian dengan pemindai dan tes DNA mengungkap hal tak terduga. Putri Mesir di Thebes pada 3.500 tahun lalu ternyata memiliki pembuluh darah yang tersumbat di jantung. Tim arkeolog lain mengekstrak DNA kerangka wanita di sebuah biara Florence di Italia. Tulang itu milik Lisa Gherardini Del Giocondo, seorang wanita yang, menurut sejarawan, menjadi model bagi Leonardo da Vinci untuk Mona Lisa.

7. PERANGKAT GPS

GPS atau Global Positioning System telah menjadi alat standar bagi arkeolog yang ingin menentukan artefak, bangunan, atau fitur di suatu situs penggalian. Alat ini menghasilkan informasi berupa keletakan suatu objek dalam besaran derajat Lintang dan Bujur. Hal ini memungkinkan arkeolog dari Australia, Selandia Baru, dan Turki memulai survei Perang Dunia I di medan perang Gallipoli di Turki.
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!