herdinbisnis.com: ANCAMAN BAU BUAT PETERNAK ?, ADA SOLUSINYA

.

.

Kamis, 19 April 2012

Written on

ANCAMAN BAU BUAT PETERNAK ?, ADA SOLUSINYA

Berikut beberapa kutipan berita dan artikel tentang BAU yang diakibatkan oleh Kegiatan Peternakan, 
Apa ada solusinya ?. 
Pelajari lebih jauh. Silahkan baca dengan seksama sampai tuntas
sebab keterangan Utama ada di sisi bawah Catatan ini :



Jember (beritajatim.com) - Bisnis peternakan ayam potong beromzet miliaran rupiah di Jember terancam ambruk, jika konflik dengan masyarakat yang dipicu bau tak teratasi. Satu peternakan ditutup, akan bisa menyebabkan peternakan lain ikut ditutup. 

Kecemasan ini dikemukakan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kelautan Jember, Dalhar. “Kalau tidak bau sama sekali tidak bisa. Kecuali kita ‘by fresh’ tiap hari. Apapun ada bau, tapi sedapat mungkin kita minimalisir bau yang ada,” katanya.


Persoalan bau ini menyebabkan masyarakat Dukuh Mencek menuntut dua perusahaan ternak ayam potong dan pengelolaan tulang ditutup. Ini jika benar-benar terjadi, Dalhar khawatir akan berimbas ke usaha ternak ayam potong di daerah lain di Jember.

“Kami sayangkan kalau harus ditutup. Kami tidak bisa membayangkan semua peternakan ditutup. Ini akan berdampak luar biasa. Bagaimana anak cucu kita? Ayam daging dan telur ini sarana pangan yang mengisi otak,” kata Dalhar.

Jumlah pengusaha ternak ayam potong di Jember sekitar 80 orang. Satu usaha kemitraan memiliki 8-10 ribu ekor ayam, dengan investasi Rp 1,2 miliar untuk kandang tertutup atau Rp 300-400 juta untuk investasi kandang terbuka. Mayoritas peternak ini menggunakan kandang terbuka.

Problem mereka sama, yakni masalah bau. Pemerintah Kabupaten Jember sempat didatangi asosiasi mitra peternak ayam daging dan petelur ini terkait mulai maraknya penertiban perijinan. “Kami meminta teman-teman untuk menyelesaikan masalah perijinan,” kata Dalhar. [wir]


=========================================


17 Januari 2011, Semarapura (Bali Post) -Warga di wilayah Desa Tojan, Klungkung protes keberadaan kandang bebek bercampur babi di sekitar pemukiman mereka. Kandang seluas 8 are itu menebar limbah dan bau menyengat sehhngga mengganggu kenyamanan masyarakat. 

Apalagi ketika hujan, limbah (kotoran ternak) meluber ke jalan. Bahkan sebagian masuk ke halaman rumah warga karena letak kandang bebek lebih tinggi dibanding beberapa rumah di sekitarnya. 

”Ya, saya malah sempat bertengkar hebat dengan pemilik kandang,” ungkap seorang warga yang tinggal persis di sebelah kandang, Komang Sadia, Minggu (16/1) kemarin.

Menurut Sadia, beberapa warga mengadukan persoalannya ke Kantor Desa Tojan tiga minggu lalu. Keluhan itu dilanjutkan ke Dinas Kesehatan dan Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Klungkung. Namun belum ada penindaklanjutannya hingga saat ini, tandas Sadia seraya menyebutkan, keberadaan kandang yang diketahui milik Made Suara asal Banjar Jelantik Mamoran tersebut benar-benar mengganggu. 

”Selain limbahnya meluap hingga meluber ke jalan dan menebar bau menyengat, keberadaan kandang juga memunculkan nyamuk dan lalat. Kalau dibiarkan, kan dikhawatirkan juga muncul nyamuk demam berdarah,” tambahnya.Lagi pula, Sadia yang mengaku sudah tinggal di kawasan tersebut sejak sebelas tahun lalu, tidak pernah dimintai persetujuan sebagai pendamping oleh pemilik kandang. 

Begitu juga warga masyarakat lain. ”Kami tidak pernah dimintai persetujuan sebagai pendamping,” ujarnya seraya menyebutkan kandang itu baru sekitar satu tahunan.Hal sama dikatakan Wayan Budiartana. 

Dia juga mengeluhkan limbah, bau menyengat, nyamuk dan lalat yang ditimbulkan dari keberadaan kandang. Dedak yang menjadi pakan ternak, kata Budiartana juga beterbangan hingga di halaman rumahnya. 

Mau tidak mau, hal itu pasti dirasakan sangat mdngganggu. ”Memang, kalau protes langsung ke pemiliknya, saya belum pernah, akunya seraya menyebutkan, pemilik kandang juga sama sekali belum pernah meminta tanda tangan persetujuan sebagai pendamping sebelum kandang itu dibangun. 

Saya juga tidak tahu persis, apakah kandang itu sudah ada izinnya atau belum. Yang saya dengar, kasusnya memang sudah dilaporkan ke kantor desa,” tambah laki-laki yang mengaku aslinya berasal dari Desa Tegak.Berdasarkan pantauan ke lokasi, kandang bebek itu juga tampak membuang limbah ke got. 

Terlihat dari saluran berupa pipa yang sengaja diarahkan menuju got yang ada di bagian depan kandang. Kandang bebek itu juga tertutup rapat dengan dinding (tembok panyengker) dan pintu gerbang yang sengaja dibuat tinggi, sekitar dua meter. 

Dua pekerja yang tampak terlihat di dalam kandang, juga tidak bergeming ketika mencoba dimintai konfirmasinya.Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala KLH Klungkung, Dewa Oka Kusuma Jaya mengaku dirinya sama sekali belum menerima surat keluhan dari warga yang dikatakan sudah dikirim melalui Kantor Desa Tojan tiga minggu lalu. Dikatakan, ketika surat keluhan itu diterima, dia pasti langsung turun ke lokasi. 

”Seperti sebelum-sebelumnya, setiap ada surat keluhan yang saya terima, pasti langsung saya tindak lanjuti,” katanya seraya menambahkan, kendati surat keluhan terkait keberadaan kandang bebek belum diterima, melalui informasi awal ini dia mengaku akan segera melakukan pengecekan, Senin (17/1) ini. (kmb20)

=========================================



MALANG, KOMPAS.com - Sebanyak 364 siswa di SDN 1 Purwodadi, Kota Malang, Jawa Timur, terdampak bau tak sedap dari kotoran 400 ekor ayam yang kandangnya terletak di dekat sekolah itu. Jarak kandang ayam itu hanya empat meter dari pagar sekolah. Akibatnya, proses belajar mengajar di SDN tersebut terganggu sejak Juli 2010 hingga sekarang.

“Yang paling parah terdampak bau ada tujuh kelas. Yakni kelas 6A, 6B, 5A, 5B, 4A, 4B dan 3A. Kelas lainnya juga mencium bau tapi tak terlalu parah,” kata Kepala sekolah SDN 1 Purwodadi, Didit Hardianto, di Malang, Kamis (7/4/2011).

Ia menjelaskan, sejak Juli 2010 semua guru yang akan mengajar di tujuh kelas tersebut harus memakai masker. “Kalau siswanya ada yang pakai ada yang mulutnya ditutupi kertas. Siswa sering mengajak demo ke pemilik kandang itu,” katanya.

Menurut Didit, pihaknya dan perangkat kelurahan sudah sering memberitahu ke pemilik kandang. Namun, tak ada respon. Karena masalah tak kunjung beres, pihak sekolah akhirnya melaporkan hal tersebut ke DPRD Kota Malang.  “Saya laporkan ke Diknas (Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang) dan ke Komisi D (DPRD) agar dilihat langsung. Saya kasihan pada siswa dan guru yang terganggu akibat bau kotoran ayam itu,” ujarnya.

Hari ini, Kamis (7/4/2011), anggota Komisi D DPRD Kota Malang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk mengetahui kondisi secara langsung. Para wakil rakyat menemui pemilik kandang ayam, Mulyanto (59), dan berdialog mencari solusi atas permasalahan yang terjadi.

Tak mau pindah

Ditemui Kompas.com, Mulyanto mengatakan, kandang ayam miliknya itu sudah dibangun sejak 2009 lalu. “Tanah ini milik saya sendiri. Jumlah ayam bertelurnya sebanyak 400 ekor. Memang sudah sering saya dikasih tahu oleh pihak sekolah,” akunya.

Namun, kata dia, kandang ayam itu adalah satu-satunya tulang punggung penghasilannya. “Jadi, saya tetap tidak mau kalau kandang ayam saya ini disuruh pindah. Mau dipindah ke mana, wong ini lahan saya,” katanya.

Diakui Mulyanto, pihak yang memprotes keberadaan kandang ayamnya bukan hanya dari sekolah. Warga sekitar juga sering memprotes dan meminta agar kandang ayam itu dipindah. “Katanya baunya menyengat sekali. Tapi, saya sudah biasa,” kilah dia.

Mulyanto juga mengaku dirinya sudah sering dipanggil ke kantor kelurahan untuk memusyawarahkan hal tersebut. “Saya tetap tak akan memindah kandang saya ini,” tegasnya santai.

Usai bertemu Mulyanto, Komisi D Kota Malang akan mengumpulkan dan mengundang Mulyanto, pihak sekolah, dan kelurahan untuk melakukan musyarawarah.  “Dewan siap menjadi mediator. Hanya, pendirian kandang ayam itu tidak memiliki izin. Karena tidak memiliki izin, yang jelas sudah salah. apalagi mengganggu lingkungannya dan ratusan siswa,” tegas salah seorang anggota Komisi D Sutadji.

“Karena tak memiliki izin maka harus ditutup. Pemiliknya tak bisa ngotot,” tegas dia.

=========================================

Kini TELAH DIKENALKAN sebuah produk kreatif karya anak bangsa untuk dunia peternakan berjuluk PROTEXOL Pemusnah Bau Organik.



Diproses dari bahan murni organik dengan kandungan bioflavonoid dan polyphenol yang tinggi terbukti secara ilmiah maupun empirik untuk menekan bau amonia (dan bau dari limbah organik lainnya) secara efektif, cepat dan aman. Efisiensi dicapai dengan kepekatan pencampuran ke dalam air yaitu 2%-4% PROTEXOL saja. Satu kali penyemprotan larutan PROTEXOL terbukti mampu mengurangi bau amonia kotoran ayam sampai 90% selama 5 hari seperti yang telah diterapkan di Sumber Rejeki Farm, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan penuturan Bapak Puji Suyoto (alumnus Universitas Soedirman)  selaku manager farm, baru pada hari ke-6 dirasakan muncul bau lagi akibat akumulasi kotoran baru sehingga penyemprotan perlu diulangi.

Dengan harga yang sangat terjangkau dan finacially friendly, kami yakin PROTEXOL akan mampu menjawab berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh kotoran ayam. Termasuk dampak sosial terhadap masyarakat lingkungan sekitar yang terimbas bau menyengat kotoran ayam selama ini. Sering kali kita membaca berita adanya peternakan ayam didemonstrasi warga yang rumahnya berdekatan dengan kandang ayam. Semoga cost yang ditimbulkan oleh dampak sosial usaha peternakan khususnya ayam baik broiler maupun layer dan unggas lainnya bisa dihindari atau minimal dikurangi dengan hadirnya PROTEXOL. Go Environmentally Friendly Farming !
SOLUSI UNTUK ANDA


SAATNYA PROTEXOL BERTINDAK! TELAH BANYAK YANG MEMBUKTIKAN BAHWA PROTEXOL SANGAT EFEKTIF MDNGHENTIKAN BAU KOTORAN LIMBAH PETERNAKAN.

SAATNYA USAHA PETERNAKAN DI BALI DI SELAMATKAN. AMPUH MEREDAM BAU KOTORAN BEBEK, AYAM, BABI, SAPI, DOMBA, KAMBING DAN SEGALA MACAM BAU LAINNYA!!!

CUKUP DENGAN DOSIS 4% DARI VOLUME AIR, SEMPROTKAN MERATA KE SUMBER BAU SECARA LANGSUNG. PROTEXOL MAMPU MENAHAN BAU SAMPAI 1 MINGGU. 

ULANGI PENYEMPROTAN KETIKA BAU MUNCUL LAGI AKIBAT AKUMULASI KOTORAN BARU. DIJAMIN AMAN BAGI TERNAK DAN MANUSIA MESKIPUN KABUT SEMPROTAN MENGENAI TERNAK DAN PERALATAN KANDANG.

=========================================

Plus minus kandang ayam broiler sistem postal selama ini telah banyak diketahui oleh kalangan peternak dan pemerhati dunia peternakan ayam broiler.

Plusnya, yang paling pertama adalah hemat bahan bangunan terutama kayu dan bambu dibandingkan kandang panggung. 

Kedua, resiko ayam terjepit bisa dihindari karena lantainya tidak terbuat dari bilah-bilah kayu/bambu seperti terdapat pada kandang panggung. 

Ketiga, proses panen relatif lebih mudah. Ciri khas dari kandang sistem postal dapat dilihat pada bagian lantai. Litter merupakan alas atau lantai kandang yang terbuat dari bahan-bahan seperti sekam (kulit) padi, serbuk gergajian, tongkol jagung yang dipecah-pecah, serta jerami dan ampas tebu yang dipotong-potong. Bahan-bahan diatas dapat menyerap air dengan baik, sehingga lantai kandang tidak mudah becek. Selain itu, bahan-bahan litter mengandung banyak vitamin B12 yang baik untuk pertumbuhan, karena jerami, sekam padi dan bahan sejenisnya mempunyai kemampuan menahan panas sehingga suhu kandang pun menjadi lebih hangat.

Minusnya, penyebaran penyakit dalam model kandang seperti ini lebih cepat karena kontak langsung antara ayam yang sehat dan yang sakit sangat mudah terjadi apalagi kalau litter tidak pernah dibersihkan dan lembab. Litter yang lembab atau basah akan menjadi busuk sehingga menjadi tempat yang sangat baik bagi organisme penyebab penyakit dan parasit. Oleh sebab itu, peternak perlu menjaga supaya litter selalu dalam kondisi kering dan tidak lembab. Menjadi lembab adalah pasti karena aktifitas setiap harinya banyak melibatkan air dan cairan. Hal ini akan diatasi dengan pergantian litter secara berkala dengan yang baru dan kering. Menjadi bau lebih pasti lagi karena ayam mengeluarkan kotoran setiap saat. Faktor bau ini yang lebih menjadi pertimbangan peternak untuk segera mengganti litter di kandangnya. Saat ini harga bahan litter tidaklah murah. 

Di Jawa Barat kabarnya harga sekam sudah mencapai 7.500 per karung. Tentu perlu diperhitungkan juga dalam kaitan untung rugi budidaya.

Menghemat sekam litter dapat dilakukan dengan menyemprotkan larutan PROTEXOL secara berkala pula. Pengalaman Pak Agung Supriadi, peternak ayam broiler dari Bandung, penggantian sekam yang biasanya 2 hari sekali sekarang dengan disemprot PROTEXOL cukup diganti tiap 5 hari sekali. Bau kotoran ayam bisa diredam sampai 90%.

Efek dari berkurangnya bau amonia kotoran ayam adalah dengan semakin primanya tingkat kesehatan ayam. Kematian akibat penyakit semakin bisa ditekan. Dan yang paling jelas, tetangga di kampung sebelah berdatangan bukan untuk berdemo tapi datang bertanya, ” Pak Agung, kandangnya kok sekarang tidak bau?” Horreeeeeeeee....

ORDERKAN 
PROTEXOL ANDA SEKARANG 
VIA SMS KE 081249412121

Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!