herdinbisnis.com: Cerita tentang Sang Burung Garuda

.

.

Sabtu, 05 Mei 2012

Written on

Cerita tentang Sang Burung Garuda


Hé Jatayu dibya, wênang dharaka ring hurip, sangka ryasih ta mamitra, bapangku kalulut têmên, tumuluy têka ring putra, ah ō dibyanta hé kaga. Sêdêng tat mahurip nguni, bapangku mahurip hidêp, ri pêjah ta kunêng mangke, menyak uwuh-uwuh.
terjemahan:


Hai Jatayu yang mulia, sungguh kuat dikau memepertahankan jiwa. Karena cinta kasihmu bersahabat terhadap ayahku lekat sekali, berkelanjutan sampai kepada aku, puteranya. Amatlah mulia wahai dikau burung perkasa. Tatkala engkau masih hidup tadi, ayahku kurasakan masih hidup, sekarang ketika engkau telah meninggal, sungguh bertambah sedih hatiku.
Itulah ucapan yang di utarakan Sang Rama dalam bahasa Sansekerta sesaat setelah Jatayu (Burung Garuda) gugur dalam peperangan dengan Rahwana dalam upaya menyelamatkan Dewi Sinta dalam cerita Ramayana. Jatayu adalah contoh sosok burung Garuda yang berjiwa ksatria. Sosok Burung Garuda juga terdapat pada relief dan patung pada candi-candi di Indonesia sebagai titisan dewa Wisnu. Begitu lekatnya sosok burung garuda dengan sejarah dan kultur bangsa Indonesia ini negara memberi penghargaan tertinggi kepada burung ini dengan menetapkannya sebagai lambang negara Indonesia dan simbol satwa langka berdasarkan Keppres No. 4 tertanggal 10 Januari 1995.


Istilah Garuda muncul sebatas pada sebuah cerita saja, sehingga sering dianggap sebagai mitos dan tidak dijumpai di alam. Namun ada burung yang identik dengan burung garuda yaitu Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Pemerintah memberikan Apresiasi pada burung Elang Jawa sebagai Lambang Negara dan simbol satwa langka.

Saat ini Indonesia diketahui memiliki 72 jenis burung pemangsa yang termasuk dalam ordo Falconiformes yang terbagi dalam 3 famili yaitu Pandionidae, Acciptridae dan Falconidae. Dari jumlah tersebut 11 jenis bisa dikatakan sebagai jenis yang perlu mendapat perhatian, dimana 5 jenis diantaranya secara global terancam punah, 5 jenis yang mendekati terancam punah dan 1 jenis kurang data. Jenis-jenis yang perlu mendapat perhatian tersebut adalah Elang Jawa yangmenurut kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN).berstatus Genting (Endangered)

Sejarah penemuan burung elang yang digunakan sebagai nama kebesaran PSS Sleman dan logo dari Slemania ini, dimulai pada tanggal 30 April 1908 tepatnya di daerah Jawa Barat. Saat itu Max. E.G. Bartels memperoleh seekor Elang berjambul yang ditangkap oleh seorang penduduk di perkebunan Gunung Melati, Jawa Barat. Pada tahun 1924 Prof E Streasemann, pakar burung asal Jerman memperkenalkan spesies baru ini dengan nama Spizaetus bartelsi. nama ini diambil sebagai penghormatan kepada Max Bartels. Dalam bahasa Inggris, spesies elang ini disebut Java Hawk-Eagle.
Seluruh populasi elang jawa yang masih ada terbagi menjadi populasi-populasi kecil yang tersebar dari Ujung Kulon di sebelah barat sampai ke Alas Purwo di sebelah timur jawa. Burung ini masih ditemukan di Tangkuban Perahu, Gunung Sawal, dan Panaruban Jawa Barat, dan beberapa daerah lain di Jawa seperti di Jawa Tengah (Gunung Segara / Pegunungan Pembarisan, Gunung Slamet, Pegunungan Dieng (termasuk Gunung Prahu, Gunung Besar dan Dataran Tinggi Dieng), Gunung Ungaran, Gunung Merapi, dan Gunung Muria), Yogyakarta (sekitar lereng merapi) dan Jawa Timur (Pulau Sempu Kabupaten malang Malang).
Berdasarkan data terakhir Yayasan Pribumi Alam Lestari (YPAL), diperkirakan jumlah populasi elang jawa tinggal 81-108 pasang. Pada 1997 lalu, masih adatujuh pasang elang jawa di sekitar Tangkubanparahu, Kab. Subang Jawa Barat. Sementara itu, data terakhir menunjukkan populasi elang jawa tinggal tiga pasang saja. Sedangkan di sisi selatan Gunung Merapi hanya menyisakan 5 ekor. Setelah letusan dahsyat Gunung Merapi lusa belum ada data lagi menganai burung ini. Di Jawa Tengah diperkirakan terdapat 20-28 pasang Elang Jawa, yang tersebar di 6 daerah. Di Jawa Timur sebagaian besar populasi terdapat di derah cagar alam pulau Sempu. Selain kerusakan habitat, perubahan iklim, polusi, perburuan untuk perdagangan liar turut mengancam keberadaan hewan langka ini.
Begitulah kondisi burung yang dijadikan lambang negara kita, semoga ada upaya konservasi yang lebih baik sehingga anak cucu kita kelak masih dapat melihat burung ini.

source : Kompasiana
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!