herdinbisnis.com: Virus Tungro, Apa dan Bagaimana Mengatasinya

.

.

Senin, 10 Desember 2012

Written on

Virus Tungro, Apa dan Bagaimana Mengatasinya


PENDAHULUAN

Secara nasional pada periode 1996-2002, tungro menyerang tanaman padi rata-rata 16.477 ha sawah dan menyebabkan tanaman puso seluas 1.027 ha. Tungro telah menyebar hampir di seluruh daerah sentra produksi padi di Indonesia. Daerah endemis tungro di seluruh Indonesia dapat dipetakan berdasarkan luas dan frekuensi serangannya yaitu (1) daerah endemis, (2) sporadis, (3) potensial, dan (4) daerah aman tungro. Perkembangan penyakit tungro pada tanaman padi terjadi dua tahap.

Perkembangan penyakit tungro pada tanaman padi terjadi dua tahap. Tahap pertama terjadi akibat infeksi di pesemaian yang ditularkan oleh wereng hijau migran pembawa virus. Tahap kedua, terjadi bersumber dari tanaman yang terserang pada tahap pertama. Namun, ledakan tungro terjadi melalui suatu proses yang membutuhkan waktu, yaitu interaksi antara jumlah dan kualitas sumber inokulum, tingkat populasi serangga penular, dan faktor pendukung lainnya.

Kehilangan hasil karena serangan tungro bervariasi bergantung pada saat tanaman terinfeksi, lokasi dan titik infeksi, musim tanam dan jenis varietas. Semakin muda tanaman terinfeksi, maka semakin besar persentase kehilangan hasil yang ditimbulkan. Kisaran kehilangan hasil pada stadia infeksi dari 2-12 minggu setelah tanam (MST) antara 90-20%.

Dalam tulisan ini diuraikan tentang karakteristik, epidemiologi, dinamika populasi vektor, serta usaha pengendalian terpadu penyakit tungro yang terintegrasi dalam pendekatan pengelolaan tanaman terpadu.


PENYEBARAN TUNGRO

Di Indonesia, penyakit tungro mula-mula hanya terbatas penyebarannya di daerah tertentu seperti di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Utara. Pada tahun 1980, terjadi ledakan penyakit tungro di Bali yang meliputi Kabupaten Badung, Tabanan, dan Gianyar. Penyakit virus tungro selanjutnya meluas ke Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Pewilayahan daerah serangan penyakit virus dengan menggunakan data SPIV yang dikumpulkan oleh pengamat-pengamat hama di Provinsi Jawa dan Bali dari MT 1996/97 s/d MT 2000/01 diketahui bahwa penyakit tungro menyebar paling luas pada 75 kabupaten dari 90 kabupaten yang melaporkan hasil pengamatan penyakit virus padi.

Pada musim tanam 1969-1992 penyakit tungro dilaporkan menginfeksi pertanaman padi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Irian Jaya dengan total luas tanaman terinfeksi 244.904 ha. Sedangkan ledakan penyakit tungro yang terjadi pada akhir tahun 1995 di wilayah Surakarta, Jawa Tengah mengakibatkan sekitar 12.340 ha sawah puso, dan nilai kehilangan hasil akibat penyakit tersebut diperkirakan setara dengan Rp. 25 milyar. Keberadaan penyakit tungro tersebut ditemukan pula di beberapa daerah di Jawa Barat seperti Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor.

GEJALA DAN CARA MENGIDENTIFIKASI

Gejala

Penyakit tungro sudah cukup lama dikenal di Indonesia dengan bermacam-macam nama seperti mentek, penyakit habang (di Kalimantan), cellapance (di Sulawesi Selatan), atau kebebeng (di Bali).

Gejala utama penyakit tungro tampak pada perubahan warna pada daun muda menjadi kuning oranye dimulai dari ujung daun, jumlah anakan berkurang, tanaman kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan yang terinfeksi.

Intensitas serangan bergantung pada tingkat ketahanan varietas padi dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Tanaman muda lebih peka terhadap infeksi dibanding tanaman tua. Gejala pertama pada umumnya timbul paling cepat satu minggu setelah terinfeksi. Jika tanaman dapat terhindar dari infeksi sampai umur dua bulan, maka selanjutnya penyakit tungro kurang mengakibatkan kerusakan dan kehilangan hasil. Sedangkan derajat perubahan warna daun sangat bergantung pada varietas padi yang diserang dan faktor lingkungan. Pada varietas tertentu sering gejala tungro menghilang setelah beberapa lama dan muncul kembali pada anakan atau turiang.

Cara Mengidentifikasi
Untuk mengidentifikasi secara cepat tanaman terinfeksi virus tungro dapat dilakukan dengan cara (a) Pengamatan secara visual, (b) Uji penularan, (c) uji iodium, (d) Uji enzyme-linked immunosorbent assays (ELISA), dan (e) Uji PCR (Polymerase Chain Reaction).

Pengamatan visual
Serangan penyakit tungro di lapangan dapat diketahui secara cepat dengan cara mengamati gejala yang khas yaitu tersebar secara sporadis dan mengelompok. Gejala penyakit tungro dapat dibedakan dengan tanaman yang kekurangan atau keracunan unsur hara tertentu. Tanaman yang terserang tungro gejalanya lebih merata hampir pada seluruh areal pertanaman. Tinggi tanaman yang sakit lebih pendek dari yang sehat, sehingga hamparan tanaman terlihat bergelombang. Apabila ditemukan gejala serangan sporadik dan hamparan tanaman bergelombang, maka hal ini merupakan indikasi tanaman terserang penyakit tungro.

Uji penularan: 
• Siapkan pot berisi tanah.
• Semaikan sejumlah benih varietas rentan pada pot tersebut. 
• Sungkupkan kurungan kain kasa yang tidak bisa diterobos wereng hijau. 
• Setelah tanaman berumur 7 hari masukkan wereng hijau dari daerah yang diduga terserang patogen  tungro. Tiap tanaman dilepaskan 5 serangga dewasa. 
• Biarkan wereng hijau selama 2 hari berada di dalam kurungan. 
• Dua minggu setelah itu amati apakah tanaman menunjukkan gejala seperti di lapangan. Bila terlihat gejala yang sama, berarti daerah asal wereng tersebut memang terserang virus tungro. 
• Untuk menghindari kesalahan pengamatan atau identifikasi diperlukan tanaman pembanding atau kontrol.

Uji iodium 
• Daun tanaman sakit dipotong sepanjang 10 - 15 cm. 
• Klorofil pada daun dihilangkan dengan cara merebus potongan daun dalam cairan alkohol 96% selama 30 menit, atau dengan merendam daun dalam alkohol 96% selama 24 jam.
• Potongan daun kemudian direndam dalam larutan iodium selama 10 menit. 
• Cuci dengan alkohol 96% untuk menghilangkan sisa larutan iodium pada daun. 
• Apabila warna potongan daun berubah menjadi biru berarti contoh tanaman tadi positif ditulari virus. 
• Dalam keadaan tertentu dapat dilakukan dengan mencelupkan ujung potongan daun ke dalam iodium

Uji enzyme-linked immunosorbent assays (ELISA) 
Uji ELISA sebagai salah satu metode serologi sering digunakan untuk mendeteksi virus tungro karena mudah dilakukan, cepat, sensitif, akurat dan dapat digunakan untuk menguji sampel dalam jumlah besar. Metode tersebut didasarkan pada konjugasi antara virus - antibodi dan enzim dengan menambahkan substrat pewarna, maka dapat diperlihatkan adanya konjugasi tersebut.

Dalam uji ELISA ada beberapa cara yang digunakan yaitu indirect ELISA, double antibody sandwich ELISA (OAS ELISA), OAS-ELISA protocol, F (ab')2 indirect ELISA dan F (ab')2 ELISA protocol. Namun, yang banyak digunakan Metode indirect ELISA dan double antibody sandwich ELISA (OAS-ELlSA). Dalam indirect ELISA uji didasarkan adanya ikatan enzim dengan molekul antibodi yang dapat dideteksi oleh antiviral immunoglobulin. Sedangkan pada OAS-ELlSA, virus diikat oleh antibodi spesifik yang kemudian bereaksi lagi dengan antibodi spesifik yang telah diikat oleh enzim. Dari segi praktek, indirect ELISA lebih sederhana dan lebih cepat karena tidak melalui prosedur pemurnian virus, mempersiapkan stok gamma-globulin (lg8), dan melakukan konjugasi enzim-immunoglobulin.

Uji PCR (Polymerase Chain Reaction)
PCR merupakan teknik laboratorium yang dapat menggandakan asam nukleat (DNA) virus dalam mesin pengganda DNA. Virus tungro batang ataupun virus tungro bulat baik yang terdapat dalam contoh tanaman padi atau dalam tubuh wereng hijau dapat dideteksi, walaupun kadarnya sangat kecil. Dibandingkan dengan ELISA, PCR dapat 1000-10000 kali lebih akurat dan sensitif.

PCR meliputi tahap ekstraksi DNA dari contoh tanaman, penggandaan DNA dengan menggunakan primer khusus. Visualisasi hasil penggandaan DNA dalam gel agarose melalui cara elektroforesis, terakhir gel tersebut diwarnai (staining) dengan ethidium bromida, sehingga pita-pita DNA virus dapat diamati dengan jelas. Contoh tanaman yang tidak terinfeksi virus, tidak ada pita DNA.

PENYEBAB PENYAKIT

Tungro disebabkan oleh virus yang mempunyai dua macam zarah partikel, yaitu yang berbentuk bulat (rice tungro spherical virus - RTSV) dengan garis tengah 30 nano meter dan berbentuk batang (rice tungro bacilliform virus: RTBV) seperti bakteri dengan ukuran (150 - 350) x 35 nano meter.

Gejala penyakit tungro yang berat disebabkan oleh kompleks dua jenis virus berbentuk batang dan bulat, sedangkan infeksi salah satu jenis virus menyebabkan gejala ringan atau tidak jelas bergantung pada partikel yang menginfeksi.

Virus tidak ditularkan melalui telur serangga dan juga tidak dapat ditularkan melalui biji, tanah, air dan secara mekanis (misal pergesekan antara bagian tanaman yang sakit dengan yang sehat). Nimfa wereng hijau juga dapat menularkan virus, tetapi menjadi tidak infektif setelah ganti kulit.

Virus tungro tidak memberikan pengaruh negatif kepada vektor. Apabila inokulum virus sudah ada di lapang, keberadaan tungro dipengaruhi oleh fluktuasi vektor. Dengan demikian dinamika populasi vektor penting dipahami untuk menyusun strategi pengendalian penyakit tungro.

PENULAR PENYAKIT (VEKTOR)

Kedua jenis virus umumnya terdapat pada jaringan floem. Kedua partikel ditularkan oleh wereng hijau secara semi-persisten. Wereng hijau species N. virescens adalah vektor yang paling efisien menularkan kedua jenis virus penyebab penyakit tungro. Dilaporkan bahwa wereng hijau dapat memindahkan RTSV dari tanaman padi yang hanya terinfeksi RTSV, tetapi tidak mampu memindahkan RTBV dari tanaman yang hanya terinfeksi RTBV. RTBV dapat dipindahkan oleh wereng hijau yang telah terinfeksi RTSV. Dengan demikian RTBV merupakan virus dependent, sedangkan RTSV berfungsi sebagai pembantu (helper).

Kedua partikel virus bersifat non-circulative, yaitu dalam tubuh vektor virus tidak dapat ditularkan dari imago ke telur maupun antar perubahan stadia perkembangan. Serangga yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkannya sampai virus yang diperoleh habis, sehingga kehilangan kemampuan menularkan virus. Masa terpanjang vektor mampu menularkan virus adalah 6 hari. Lama waktu yang dibutuhkan serangga untuk memperoleh virus antara 5-30 menit, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk menularkan virus juga singkat antara 7-30 menit. Periode inkubasi virus dalam tanaman antara 6-15 hari.

TANAMAN INANG

Tanaman inang tungro selain padi adalah rumput belulang (Eleusine indica), rumput bebek atau tuton (Echinochloa colonum), jajago¬an (Echinochloa crusgali), juhun randan (Ischaemum rugosum), tapak jalak atau rumput katelan (Dactyloctenium aegyptium), rumput asinan (Paspalum distichum) dan padi liar.

N. virescens hanya dapat berkembang dengan baik dan menjadi penular yang efisien pada padi. N. nigropictus dapat berkembang pada padi maupun rerumputan, meskipun berkembang dengan baik pada rerumputan. N. nigropictus dapat menularkan virus dari rerumputan ke tanaman padi.

EPIDEMIOLOGI

Perkembangan RTSV dan RTBV pada tanaman padi maupun wereng hijau yang dilaporkan oleh Hasanuddin et al. (1999) sebagai berikut. Tanaman padi terinfeksi RTSV terdeteksi lebih awal dari RTBV. Tanaman terinfeksi RTSV terdeteksi sejak tanaman umur 2 minggu setelah tanam (MST). Tingkat tanaman terinfeksi pada saat awal hanya 10% dan meningkat sampai 80% saat tanaman umur 6 MST. Tanaman terinfeksi RTBV pada tanaman baru terdeteksi saat tanaman umur 4 MST. Gejala visual infeksi tungro telah jelas terlihat pada saat kedua virus telah terdeteksi. Perkembangan komposisi virus seperti itu juga terjadi di Filipina. Wereng hijau terinfeksi RTSV telah terdeteksi sejak tanaman umur 3MST. Dengan demikian diketahui sejak awal wereng hijau migran membawa RTSV yang dapat membantu penyebaran RTBV.

Infeksi tungro dapat terjadi mulai di persemaian. Pada stadium ini tanaman sangat sensitif terhadap in¬feksi virus. Apabila infeksi terjadi pada stadium persemai¬an maka gejala tungro akan tampak pada tanaman umur 2 - 3 minggu setelah tanam. Tanaman muda yang ter¬infeksi merupakan sumber inokulum utama setelah padi ditanam di lapangan.

Selama satu periode pertumbuhan tanaman padi terjadi 2 puncak tambah tanaman terinfeksi yaitu pada saat 4 minggu setelah tanam (MST) dan 8 MST. Puncak infeksi pertama disebabkan oleh serangga imigran pada 2 MST, sedangkan puncak infeksi kedua disebabkan infeksi yang terjadi saat 6 MST oleh keturunan serangga migran.

DINAMIKA POPULASI WERENG HIJAU

Saat ini N. virescens mendominasi komposisi spesies wereng hijau di Pulau Jawa dan Bali. N. nigropictus terutama pada musim hujan kadang-kadang mendominasi komposisi spesies wereng hijau di Kalimantan Selatan dan pada beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan ada kecenderungan pergeseran dominasi N. virescens ke N. nigropictus.

Dalam satu musim tanam, N. virescens yaitu wereng hijau yang paling dominan dan efisien menularkan virus tungro umumnya melewati tiga generasi.

Pada pola I peningkatan kepadatan populasi terjadi terus menerus dari G0 sampai G2, pola II dicirikan oleh peningkatan kepadatan populasi hanya sekali dari G0 ke G1, sedangkan pada pola II dari sejak G0 kepadatan populasi tidak meningkat sama sekali (54). Pada pola tanam padi-padi-padi pertumbuhan kepadatan populasi sebagian besar (45%) mengikuti pola II, sedangkan pada pola tanam padi-bera-padi/padi-palawija-padi sebagian besar (54,4%) mengikuti pola III. Dengan demikian pada pola padi-padi-padi pada sebagian besar kasus populasi wereng hijau dapat berkembang sampai pertengahan pertumbuhan tanaman, sedangkan pada pola tanam padi-bera-padi/padi-palawija-padi dari sebagian besar kasus populasi wereng hijau tidak berkembang sama sekali.

Hasil analisis dengan menggunakan analisis faktor kunci (key-factor analysis) diketahui bahwa kematian pada periode nimfa termasuk pemencaran imago menjadi faktor kematian kunci untuk populasi wereng hijau pada pola padi-padi-padi maupun padi-padi-bera/palawija. Dengan menggunakan analisis tanggap bilangan (numerical respond analysis) diketahui, pada pola tanam padi-padi-padi tidak ditemukan adanya tanggap bilangan antara kematian nimfa dengan kepadatan populasi pemangsa, tetapi tanggap bilangan ditemukan pada pola tanam padi-padi-bera/palawija. Hal tersebut menunjukkan adanya perbedaan faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi wereng hijau antara kedua pola tanam tersebut. Pemencaran imago (dispersal) berperan pada pola padi-padi-padi terutama yang tidak serempak tanam, sedangkan pada pola padi-padi-bera/palawija faktor penyebab kematian (mortality) berperan penting.

Implikasi dari pemahaman tersebut terhadap strategi pengendalian tungro adalah pada daerah pola tanam padi-padi-padi, dapat dilakukan dengan mengurangi kemampuan pemerolehan dan penularan virus oleh wereng hijau sebagai komponen utama pengendalian. Sedangkan pola tanam padi-padi-palawija/bera peran faktor penyebab kematian wereng hijau seperti predator, parasit serta patogen khususnya jenis jamur (jamur entomopatogen) penting dan perlu ditingkatkan perannya guna menekan kepadatan populasi wereng hijau sebagai penyebar penyakit tungro.

CARA PENGENDALIAN

Pengendalian penyakit tungro dilakukan dengan mengintegrasikan komponen-komponen pengendalian dalam satu sistem yang dikenal dengan konsep pengendalian penyakit secara terpadu. Usaha tersebut meliputi cara bercocok tanam, waktu tanam, menanam varietas tahan, menghilangkan atau mengurangi sumber virus (eradikasi), dan menggunakan pestisida bila diperlukan. Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, usaha pengendalian penyakit virus tungro dilakukan dengan mengatur waktu tanam yang tepat pada musim hujan dan musim kering, mengadakan rotasi varietas yang memiliki gen tahan wereng dan menggunakan insektisida.

Tanam serempak
Tanam serempak dapat memperpendek waktu keberadaan sumber inokulum atau waktu perkembangbiakan. Tanam serempak mengurangi sumber tanaman sakit dan membatasi waktu berkembang biak vektor penular patogen. Untuk mengurangi serangan penyakit tungro, tanaman serempak dianjurkan minimal luasan 20 ha berdasarkan gradasi penyebaran penyakit (disease gradient) dari satu sumber inokulum.

Waktu tanam tepat 
Tanam pada saat yang tepat dimaksudkan untuk membuat tanaman terhindar dari serangan pada saat tanaman peka. Waktu tanam tepat digunakan untuk mengendalikan penyakit tungro. Tanaman padi diketahui peka terhadap infeksi virus tungro saat tanaman berumur kurang dari satu bulan setelah tanam. Dengan mengamati pola fluktuasi populasi wereng hijau dan intensitas serangan tungro sepanjang tahun, akan diketahui saat-saat ancaman paling serius oleh penyakit tungro. Waktu tanam diatur sehingga pada saat ancaman tungro serius, tanaman sudah berumur lebih dari 1 bulan setelah tanam. Waktu tanam tepat hanya efektif mengendalikan penyakit tungro di daerah dengan pola tanam serempak. Waktu tanam serempak berhasil mengendalikan luas serangan tungro di Sulawesi Selatan, namun sulit diterapkan pada daerah yang tanam padinya tidak serempak seperti di Bali. Waktu tanam yang tepat dapat menghindarkan tanaman dari serangban wereng maupun infeksi virus tungro. Di Maros, penanaman padi pada awal musim hujan (Desember-Januari) atau musim kemarau (Juni-Juli) dapat terhindar dari serangan wereng dan tungro yang serius.

Waktu tanam yang tepat pada suatu wilayah dapat ditentukan berdasarkan pola curah hujan yang berhubungan dengan perkembangan populasi wereng hijau di suatu wilayah. Puncak populasi wereng hijau terjadi pada 1,5 – 2 bulan setelah curah hujan mencapai puncaknya. Pada saat populasi wereng hijau mencapai puncaknya, tanaman padi yang masih muda atau berumur 21 – 35 hari setelah tanam, sangat peka terserang tungro. Dengan demikian, waktu tanam yang tepat adalah 30 – 45 hari sebelum puncak curah hujan atau pada saat curah hujan mencapai puncaknya.

Pada waktu tanam yang tepat tersebut, semua jenis varietas padi dapat ditanam. Jika petani tidak dapat menerapkan waktu tanam yang tepat, maka dianjurkan untuk menanam varietas padi yang tahan tungro atau menggunakan pestisida yang telah dianjurkan.

Varietas tahan 
Varietas tahan penyakit tungro diklasifikasikan tahan terhadap wereng hijau sebagai penular (vektor) patogen dan tahan terhadap virus yang merupakan patogen penyebab penyakit tungro.



Varietas tahan wereng hijau dikelompokkan berdarkan sumber gen tetua tahannya menjadi golongan T1, T2, T3, dan T4 (Tabel 1). Anjuran penggunaan varietas tahan wereng hijau adalah (1) di Jawa Barat dapat ditanam varietas tahan golongan T1, T2, dan T4, (2) Jawa Tengah dapat menanam semua golongan varietas tahan, (3) Yogyakarta dianjurkan menanam varietas tahan dari golongan T2 dan T4, (4) Jawa Timur dan Bali hanya dianjurkan menanam varietas tahan golongan T4, dan (5) NTB dianjurkan menanam varietas tahan virus.

Varietas tahan virus tungro yang telah dilepas antara lain Tukad Petanu, Tukad Unda, Tukad Balian, Kalimas, dan Bondoyudo yang sesuai di setiap daerah (Tabel 2). Varietas Tukad Petanu dapat dianjurkan untuk ditanam di seluruh daerah endemis, sedangkan Tukad Unda dianjurkan ditanam di NTB dan di Sulawesi Selatan. Di derah Bali dan Sulawesi Selatan dianjurkan menanam varietas Tukad Balian dan Bondoyudo. Varietas Kalimas dan Bondoyudo diketahui tahan di Jawa Timur.



Tabur benih langsung
Cara tanam padi dengan tabela, lahan dibersihkan dan diratakan terlebih dahulu sebelum benih ditabur, sehingga inokulum tungro khususnya telah berkurang pada awal pertumbuhan tanaman. Tabela akan lebih efektif mengurangi serangan tungro bila dilakukan serempak minimal 20 ha. Tabela yang dilakukan tidak serentak sehamparan akan menjadikan tanaman padi yang tanam paling lambat mendapat akumulasi vektor maupun inokulum tungro. Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan telah mempraktekkan tabela, namun karena waktu tabur yang tidak bersamaan, serangan tungro tetap meluas.

Tanam jajar legowo 
Tanam jajar legowo menyebabkan kondisi iklim mikro dibawah kanopi tanaman kurang mendukung perkembangan patogen. Pada tanaman padi dengan sebaran ruang legowo, wereng hijau kurang aktif berpindah antar-rumpun, sehingga penyebaran tungro terbatas.

Pengairan 
Pengeringan sawah dapat meningkatkan kematian nimfa wereng coklat. Akan tetapi bila tanaman padi terserang penyakit tungro, pengeringan sawah akan mendorong wereng hijau untuk berpindah tempat. Pengeringan sawah yang terkena tungro justru akan mempercepat penyebaran penyakit ini.

Patogen 
Patogen menginfeksi serangga (entomopathogent) sehingga menyebabkan kematian pada serangga. Patogen serangga ada 3 jenis yaitu jamur, bakteri, dan virus. Patogen dari jenis jamur yang telah dikembangkan untuk mengendalikan wereng coklat, wereng hijau serta lembing batu adalah Metarhizium dan Beuveria. Jamur entomopatogen menekan penyakit tungro dengan triple actions melalui penekanan kemampuan pemencaran wereng, secara langsung dapat mematikan dan secara tidak langsung dengan pengurangan keperidian betina.

Predator
Mematikan serangga dengan cara memakan (menggigit-mengunyah) misalnya dari jenis laba-laba maupun dengan cara mengisap sperti dari jenis kepik. Jenis predator yang diandalkan untuk mengendalikan wereng hijau adalah jenis laba-laba (Lycosa), kepik (Cyrtorhinus, Microvelia). Laba-laba sulit dibiakkan massal karena sifatnya yang kanibal. Predator dari jenis kepik dapat diperbanyak dengan cara yang lebih mudah dibandingkan dengan jenis laba-laba, sehingga dapat dilepas dengan teknik inudasi. Walaupun demikian banyak yang menyarakan untuk melakukan konservasi, bila ingin meningkatkan peran predator. Konservasi dapat dilakukan dengan melakukan rotasi padi dengan palawija, menaruh mulsa jerami pada pematang atau membersihkan pematang setelah tanaman umur 1 bulan atau secara selektif bagi gulma yang berfungsi sebagai inang alternatif saja.

Pestisida 
Penyemprotan pestisida dapat menekan populasi wereng hijau yang berarti akan mengurangi kecepatan penyebaran virus. Pestisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan wereng hijau ada yang dari jenis nabati dan an-organik Bahan kimia yang dapat membunuh serangga yang diperoleh dari ekstrak tanaman seperti tembakau, akar tuba merupakan bahan yang sudah dikenal sejak lama sebagai pembunuh serangga. Tanaman yang digunakan untuk mengendalikan wereng hijau (insektisida nabati misalnya nimba dan sambilata).

Penggunaan insektisida anorganik sebaiknya berdasarkan pengamatan. Deteksi ancaman penyakit tungro dapat dilakukan pada waktu pesemaian dan saat tanaman umur 3 minggu setelah tanam. Pemantauan wereng hijau di pesemaian dilakukan dengan jaring serangga sebanyak 10 ayunan untuk mengevaluasi kerapatan populasi wereng hijau. Di samping itu juga perlu dilakukan uji yodium untuk mengetahui intensitas tungro pada 20 daun padi 15 hari setelah sebar. Jika hasil perkalian antara jumlah wereng hijau dan persentase daun terinfeksi sama atau lebih dari 75, maka pertanaman terancam tungro. Di pertanaman aplikasi insektisida dilakukan apabila terdapat lima gejala penularan tungro dari 10.000 rumpun tanaman saat berumur 2 MST atau satu gejala tungro dari 1.000 rumpun tanaman saat berumur 3 MST. Insektisida yang dapat digunakan antara lain adalah imidacloprid, tiametoksan etofenproks, dan karbofuran.

Pergiliran varietas
Untuk memperpanjang masa ketahanan varietas terhadap vektor maupun virusnya, dianjurkan untuk melakukan pergiliran varietas guna mengurangi tekanan seleksi. Varietas tahan wereng hijau dikelompokkan berdasarkan sumber tetua tahan. Pergiliran varietas dilakukan antar-musim tanam.


Sanitasi 
Gulma, singgang, ceceran gabah saat panen yang tumbuh (voluntir) dapat menjadi inang serangga maupun patogen pada saat tanaman padi tidak ada di pertanaman. Wereng hijau hanya dapat berkembang pada tanaman padi, singgang, dan voluntir. Wereng hijau spesies N. virescens yang paling efisien sebagai vektor tungro hanya dapat melengkapi siklus hidupnya dengan baik hanya pada tanaman padi. Sedangkan wereng hijau spesies lainnya seperti N. nigropictus dan N. malayanus lebih baik perkembangannya pada gulma. Virus tungro di samping dapat menginfeksi padi, juga bisa ditularkan oleh wereng hijau kepada gulma. Keberadaan ketiga wereng hijau tersebut dan gulma menyebabkan penyakit tungro endemis di lokasi tersebut. Pada saat tidak ada tanaman padi, singgang atau voluntir, virus tungro bertahan pada gulma. Wereng N. nigropictus dan N. malayanus menularkan virus pada gulma dan pada saat mulai ada tanaman padi menularkannya ke tanaman padi. Virus pada tanaman padi disebarkan kembali oleh N. virescens sehingga penyakit tungro dapat bertahan terus. Menghilangkan gulma, singgang dan voluntir akan mengurangi sumber inokulum pada awal pertumbuhan tanaman. Disarankan petani membuat pesemaian setelah lahan dibersihkan atau tanam padi dengan cara tabur benih langsung (tabela). Pada cara tanam padi dengan tabela, lahan dibersihkan dan diratakan terlebih dahulu sebelum benih ditabur. Dengan demikan inokulum tungro khususnya telah berkurang pada awal pertumbuhan tanaman. Tabela akan lebih efektif mengurangi serangan tungro bila dilakukan serempak minimal 20 ha. Tabela yang dilakukan tidak serentak sehamparan akan menjadikan tanaman padi yang tanam paling lambat mendapat akumulasi vektor maupun inokulum tungro. Di beberapa daerah di Sulawesi Selatan telah mempraktekkan tabela, namun karena waktu tabur yang tidak bersamaan, serangan tungro tetap meluas.

sumber : 
  • Petunjuk Teknis Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu (Bagian 1), Sumber: Sunihardi, Puslitbangtan, Tgl Publis: 20-11-2007, Penyusun: M.Yasin Said, I Nyoman Widiarta, M.M, http://pangan.litbang.deptan.go.id/index.php?bawaan=berita/fullteks_berita&&id_menu=3&id_submenu=3&id=74

Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!