herdinbisnis.com: Lagi tentang Gaharu, berita menarik tentangnya

.

.

Rabu, 30 Januari 2013

Written on

Lagi tentang Gaharu, berita menarik tentangnya


Teknologi rekayasa produksi gaharu, berikut isolat atau komposisi jamur pembentuk resin gaharu, yang ditemukan para peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam atau P3HKA harus segera dipatenkan pemerintah sebelum diklaim oleh negara lain. Pematenan temuan ini penting mengingat penerapannya di masyarakat sekitar hutan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka karena gaharu memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Saat ini Malaysia getol menguber teknologi rekayasa produksi gaharu temuan kami. Malaysia pernah mengirim direktur jenderal lingkungan dan pertanian ke P3HKA dan mereka meminta dapat mengadopsi temuan itu, tetapi kami tolak karena khawatir akan diklaim temuan mereka. Dibandingkan dengan penelitian India dan Thailand, menurut mereka, temuan dari Indonesia paling berhasil,” kata Erdy Santoso MS, Ketua Kelompok Peneliti Mikrobiologi Hutan dari P3HKA, Selasa (11/12).


Gubal atau bungkah yang dihasilkan jenis pohon gaharu (antara lain Aguilaria spp, Aotoxylon sypetallum, Grynops, dan Gonystylus) memiliki nilai ekonomis tinggi. Harga jualnya sangat bervariasi dalam 16 kelas, mulai dari yang paling murah, “Suloan”, senilai Rp 15.000 per kg hingga kelas “Super King” senilai Rp 26 juta per kg. Dengan menerapkan teknologi temuan P3HKA, satu batang pohon gaharu yang berusia 4-5 tahun setelah diinduksi isolat bisa menghasilkan 20 kg gubal gaharu dalam kurun waktu 1-3 tahun.

“Dari penelitian dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun, ada 26 jenis pohon gaharu dan 24 isolat yang kami temukan dari 17 provinsi. Jumlah ini paling banyak di dunia karena di negara tropis lain, seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam, hanya memiliki sekitar 2-3 jenis pohon gaharu,” kata Erdy.

Nilai ekonomis yang tinggi menjadi magnet bagi petani untuk mengembangkan gaharu. Salah satunya yang dirintis 204 petani di Desa Maringin Jaya, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Meski belum pernah menikmati secara langsung hasil budidaya gaharu yang mereka tanam sejak tahun 2004, mereka antusias menanam 143.000 pohon gaharu di areal seluas 143 hektar.

“Penanaman gaharu dilakukan petani dengan metode tumpangsari di kebun karetnya,” kata M Nuh, juru penyuluh kehutanan Kabupaten Sanggau.

Untuk konservasi lingkungan yang mendatangkan nilai lebih, Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Barat Agus Aman berencana mendistribusikan bibit gaharu ke petani di Kalbar. Ketua P3HKA Anwar mengatakan, pengembangan gaharu sebagai salah satu hasil hutan non-kayu perlu memerhatikan aspek pemasarannya sehingga benar-benar menguntungkan petani.

Saat ini gaharu biasa dipakai untuk minyak wangi atau pengharum ruangan. Di sejumlah tempat spa, minyak gaharu juga dipakai untuk melulur tubuh. Sebagian kalangan juga memanfaatkan gaharu untuk mengobati penyakit kuning atau hepatitis. Adapun harga gaharu berkisar Rp 1 juta-Rp 3 juta per kilogram, tergantung dari kualitasnya. (why/kmps) [Source]
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!