herdinbisnis.com: Menghindari Kalimat Dongeng, untuk Produk-produk Unggul Lokal kita

.

.

Senin, 11 November 2013

Written on

Menghindari Kalimat Dongeng, untuk Produk-produk Unggul Lokal kita

Ketika mendengar dongeng, kalimat yang pertama kali kita sering dengar adalah kata "Konon". Dan konon kita pernah mendengar, kisah-kisah tentang lingkungan pertanian kita. Konon kita memiliki banyak buah-buahan khas yang kita miliki ini. Konon, dilingkungan kita- banyak kita temui beragam buah yang khas daerah kita. Tetapi itu konon...., disarikan dari beragam cerita, kisah dan dongeng. Dari beragam folkfore dan kodifikasi catatan yang dibuang ke sampah. Dan tidak ada lagi pembibit yang mau menjual.

Konon, Amerika Serikat membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk memperoleh tanaman Anggur yang adaptif dengan cara menyilangkan dengan Anggur liar yang hidup disana. Sedangkan kita memiliki ragam tanaman buah khas, bahkan banyak sekali yang liar- yang tidak sama sekali kita perhatikan. Kita termainset untuk mendekati pertumbuhan buah khas, dengan label yang "KELAS", yang "WOW, sambil jumpalitan bolak balik..gtooo.", puft," capeeek, deeeeh ".

Peran ini sebagian ada pada pundak rekan peneliti kita juga, meski harus kita akui bahwa saat ini Balai-balai Penelitian kita masih kayak berada di menara gading, jauh tinggi, yang hasil penelitiannya jarang terpublikasikan! Padahal kami di herdinbisnis.com memberi kesempatan kepada rekan-rekan peneliti dan penulis dari kalangan penyuluh pertanian untuk mempublikasikan karyanya disini. Anda bisa mengirim portofolio ke khairdin@herdinbisnis.com dan email Gmail Anda via 081249412121.


Regulasi melarang, atau sistem reward kita memang masih sangat rendah. Kami merasakan ini adalah masalah akut, dan jika dibiarkan- bukan tidak mungkin problem ini akan menjadi masalah sosial yang kasat mata. Intelejen sosial kita tidak akan sampai memikirkan ini, sebab target besar penguasa- adalah fikiran besar mereka. Fikiran yang akan banyak menggerus kearifan lokal anak bangsa kita.

Namun keluarnya bibit buah anggur seperti Probolinggo Biru, serie BS, Bali dan kemudian muncul yang manis dimakan sebagai buah seperti Moscato, Belgie dan Prabu Bestari memberi harapan baru bahwa merekalah pelopor munculnya bibit-bibit adaptif di negeri ini. Karena kita tahu tanaman anggur bukan tanaman asli, tapi kita punya lahan ribuan hektar yang cocok untuk tanaman eksklusif ini. Walaupun kita masih berhadapan dengan kondisi iklim ekstrim yang terjadi belakangan ini. Sedemikian seperti yang kita ketahui, bahwa tanaman-tanaman yang kita budidayakan ini termasuk tanaman jenis C-3, tanaman yang membutuhkan karakter iklim yang khsuus. Di wilayah kita tanaman yang hidup dalam kondisi iklim ekstrim sedemikian bisa mengganggu tanaman-tanaman budidaya kita yang termasuk relatif tidak tahan. Kita perlu mengatur cara bagaimana kita bisa membanjiri pasar kita dengan buah-buahan dan hasil sayuran dari buah pekarangan kita sendiri. Bayangkan jika kita sudah mampu berswasemabada, tentunya tanpa bermaksud mengimpor dari luaran yang sudah jenuh dengan produk anggur. Tentunya dengan beragam cara memodifikasi produk olahan diluar produk yang kita sertakan dalam konsumsi sehari-hari ini. Membiasakan melengkapi buah-buahan tropis dalam setiap konsumsi keseharian kita, merupakan suatu ejawantah yang saling isi dengan adagium gizi lawas yang masih tetap sesuai dengan pola hidup yang baik bagi kemanusiaan kita semua, "4 sehat 5 sempurna". 

Kita juga masih ingat dan bangga betapa Jambu Getas Merah yang jadi penakluk ampuh Demam Berdarah (DB) dihasilkan dari silangan Jambu Bangkok dan jambu lokal oleh peneliti di RC Getas-Salatiga (sayangnya sekarang kembali fokus meneliti karet saja). Itu betul-betul prestasi yang perlu diacungi jempol tinggi-tinggi. 

Konon, Buah Jambu Biji Merah ini sudah tinggal dalam hitungan jari. Tidak banyak lagi pekarangan yang banyak bertanaman pohon buah ini.

Atau coba dengarkan kisah/sejarah yang diceritakan dengan manis oleh Onny Untung dalam bukunya "Jenis dan Budidaya Apel" tentang bagaimana bisa ditemukannya apel kebanggan kita Apel Manalagi:

Apel unggul ini pertama kali ditemukan di Kebun percobaan Banaran, Batu - Malang oleh Surachmat Kusumo, peneliti senior di Sub Balai Penelitian Hortikultura, Pasar Minggu.
Konon varitas ini dulu bernama Gandon karena berasal dari desa Gandon. Diduga ia merupakan introduksi dari Belanda, namanya zoote achaart yang yang berarti manis. Namun karena di Belanda (bahkan Eropa) tidak ada kultivar yang mirip ciri-ciri Gandon maka ia dianggap asli Indonesia.

Pada tahun 1967 di Banaran hanya ada satu pohon apel Gandon berusia lima tahun. Oleh karena dagingnya kurang lezat dan rasanya hanya manis maka ia tidak dirawat dan dikembangkan. Untung saja dua tahun kemudian, begitu mata cabang apel Gandon diokulasi pada 1000 cabang Rome Beauty, maka mutu buahnya ternyata menjadi sungguh memuaskan. Masyarakatpun mulai mengenal keistimewaan apel Gandon pada tahun 1970 dan terus berkembang sampai kini dengan nama Manalagi.

Konon, Besuki Raya juga memiliki tanaman buah khasnya. Buah Jambu Biji Merah di Desa Sumber Tengah Bungatan, Buah Mangga varian Situbondo 69, Buah Ara/Buah Tin di Argopuro, Buah Anggur Situbondo Kuning, dan sebagainya. 

Saya tercenung, dengan ini. Entah, kenapa saya harus miris jika suatu ketika saya akan berkata pada anak dan cucu saya," KONON... buah ...... dst, dst..." itu hanya pernah ada.
Bagaimana dengan Anda ?.

Tentunya ini terkait dengan ketahanan pangan kita. Sudahlah, kita jangan melihat kejenuhan produk-produk boombastis diluar negeri dan menjadikan negeri kita sendiri sebagai pasar mereka. Tetapi misalnya- setidaknya kita mulai berusaha menanam bibit anggur sendiri di pekarangan rumah kita, itu artinya kita sudah mencoba mengawali hal baik buat diri kita, keluarga, lingkungan dan masyarakat banyak lainnya.

dari beragam sumber dan disarikan dari beberapa web tetangga..



Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!