herdinbisnis.com: Semoga Bukan Ironi : Harga Pakan Naik, Harga Telur Hancur, Peternak Babak Belur

.

.

Minggu, 24 November 2013

Written on

Semoga Bukan Ironi : Harga Pakan Naik, Harga Telur Hancur, Peternak Babak Belur

Dikutip dari blog tetangga, :). Dalam catatan sejarah usaha ayam ras petelur di Indonesia hampir selalu terjadi paradoks, yakni bila harga pakan naik justru harga telur turun. Kali ini kita akan mendiskusikannya dengan menghidari pengharapan akan campur tangan pemerintah di negara yang konon ‘agraris’ ini. Daripada menghabiskan tenaga dan waktu mengharap uluran tangan pemerintah, kita peternak Indonesia yang gagah berani akan berikhtiar sendiri mencari sebab dan menemukan pintu keluar dari kejatuhan harga produksi peternakan kita, khususnya harga telur. Petaka hancurnya harga telur terjadi karena :

  1. Pihak pabrik pakan menawarkan kesempatan beli pakan dengan harga lama dalam tempo 7 hari ke depan. Maka, peternak ayam petelur  yang biasa memakai pakan pabrikan (konsentrat atau pakan komplit) akan berusaha membeli sebanyak-banyaknya untuk keperluan 1 – 2 bulan ke depan. Syarat pembayarannya Cash Before Delivery (C.B.D.). Bagi peternak dengan populasi besar dan bermodal besar (populasi >100.000 ekor ayam petelur), hal ini tidak jadi masalah. Nah, bagi peternak dengan populasi sedang atau kecil, dengan cash flow terbatas, maka mereka akan berusaha mendapatkan uang kontan untuk bisa menebus pakan/konsentrat harga lama. Caranya, mereka menjual telur kepada pedagang dengan meminta pembayaran kontan meski biasanya dijual secara kredit dengan tempo 7 – 14 hari. Karena pembayarannya minta kontan, maka pedagang akan memanfaatkan situasi itu dengan minta potongan harga atau menawar harga telur dengan harga lebih rendah dibanding harga pasaran saat itu. Akibatnya, psikologi pasar terguncang. Pedagang akan bercerita kepada peternak yang lain bahwa dia mendapat telur dengan harga murah. Peternak yang lain pun akhirnya ikut jual murah. Terjadilah efek berantai, harga telur terseret turun, turun dan turun terus sampai batas terendah, termasuk harga telur dari peternak besar. Seolah-olah suplai telur meningkat, padahal suplai telur tidak ada lonjakan. Toh tiap hari juga telur habis terjual tidak ada telur yang dibuang atau dimusnahkan. 
  2. Efeknya berantai saat para peternak akan berusaha menjual ayam petelur tua, baik yang sudah waktunya afkir atau yang menjelang afkir (dipercepat) karena dengan harga jual sudah di bawah harga pokok produksi, jelas akan rugi bila dipelihara terus. Di Jawa Timur, harga ayam petelur afkir pada bulan Juli – Agustus 2013 masih Rp 21.000,-/kg, saat ini, Oktober – Nopember 2013 harganya tinggal Rp 17.000 – 18.000,-/kg dan bisa dipastikan akan turun terus karena peternak layer berebut pasar afkir. Di titik ini memang terjadi over suplai ayam petelur afkir, akibatnya harganya turun. Dan, penjualannya pun lebih sulit, tidak bisa sebanyak dibanding saat kondisi harga normal karena pedagang ayam petelur afkir tidak mau ambil resiko mengalami kerugian akibat penurunan harga. Kembali lagi, seolah-olah terjadi over suplai telur akibat ayam petelur tua tidak segera habis terjual untuk membantu menebus pakan harga lama.
  3. Efek berantai berikutnya, para peternak ayam petelur menunda pemasukan anak ayam (D.O.C) dengan alasan logis ‘sedang merugi’ dan belum ada tempat bagi ayam pullet nantinya karena ayam tua belum habis. Akibatya, harga D.O.C ayam petelur turun drastis. Harga D.O.C saat tulisan ini dibuat rentangnya Rp 2.000 – 2.500,- per ekor. Selanjutnya, pihak pembibit ayam petelur bisa dipastikan mengurangi pemasukan telur tetas ke dalam mesin pengeram/penetas. Sebagian telur tetasnya dijual ke pasar telur komersil. Harga telur dari pembibitan selalu dijual dengan harga lebih murah dibandingkan telur komersil karena tidak bisa disimpan lebih lama (disebabkan ada bibitnya atau fertile). Jadi, harga telur komersil sudah jatuh, ketimpa tangga pula.
  4. Kapan berakhir ? Efek berantai penurunan harga telur ini akan berakhir dengan sendirinya, bila :

  • Ayam petelur tua sudah habis terjual, suplai telur berkurang, harga telur akan merangkak naik dengan sendirinya.
  • Peternak yang sudah menjual habis ayam petelur tua, mulai memasukkan D.O.C yang akan menyebabkan kebutuhan terhadap D.O.C naik, maka harga D.O.C ayam petelur akan naik.
  • Pada saat yang bersamaan, pihak pembibit ayam petelur pun akan menjual induk yang tua untuk mengurangi produksi D.O.C sehingga suplainya berkurang. Bila induk tua sudah habis dijual, supplai telur ke pasar telur komersil berkurang, ini bisa menyebabkan harga telur komersil naik dengan sendirinya.
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!