.

.

Selasa, 14 Januari 2014

Written on

TIPS LENGKAP BUDIDAYA ANJURAN UNTUK TANAMAN PADI 2014

Tak pernah bosan-bosannya www.herdinbisnis.com menyampaikan tentang banyak tips dan trik untuk membudidayakan tanaman padi, karena Beras adalah unsur penting dalam hidup manusia, dan kita harus terus mempertahankan hidup dengan ketersediaannya dalam hidup kita ini. Di Indonesia, pangan merupakan hal yang bisa diupayakan peningkatan hasilnya, dan bisa digunakan sebagai salah satu pencapai kesejahteraan bagi publik yang sangat luas dan merata. Maka berikut adalah beberapa tips lengkap budidaya anjuran untuk tanaman padi tahun 2014.










Meski semua komponen teknologi budidaya padi sawah terkini sudah disosialisasikan oleh BPTP Jatim kepada petugas dan petani di Jatim, namun masih ditemui kendala dalam penerapannya. Beberapa kesulitan juga dikeluhkan oleh petani.

Penelusuran terhadap keluhan itu oleh salah seorang  peneliti BPTP Jatim (Ir. Rohmat Budiono, MP) menghasilkan resep yang disebutnya “Cara Cerdas Budidaya Padi”. Menurut Rohmat, kendala dan kesulitan itu lebih kepada kesalahan persepsi yang berbeda diantara peneliti, PPL, dan petani , serta kesalahan secara teknis dalam penerapan teknologi di lapangan.

Ditambahkannya, ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai produksi yang diharapkan. Pertama, bibit yang ditanam harus berumur muda, maksimal 15-18 hari. Umumnya petani enggan menanam bibit muda dengan alasan ukurannya terlalu kecil. Dalam hal itu, penyuluh hendaknya menjelaskan keuntungan tanam bibit muda itu.

Kedua, cara tanam harus menggunakan jajar legowo 2:1. Pada umumnya petani mengeluhkan peningkatan biaya tanam jajar legowo. Sebab, dengan jajar legowo, populasi meningkat dari 250.000 menjadi 360.000 tanaman/ha (44%). Namun petani belum dipahamkan, bahwa jajar legowo memberi keuntungan yaitu (1) semua tanaman menjadi tanaman tepi, sehingga produktivitas per rumpun meningkat, (2) pemupukan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran, (3) mengurangi biaya tenaga penyiangan lebih dari 50% (dengan alat landak/osrok), (4)pengendalian hama dan penyakit lebih mudah dilakukan.

Agar manfaat itu bisa diperoleh, haruslah disepakati bahwa yang disebut jajar legowo haruslah sistem 2:1, bukan yang lain (4:1 atau 5:1). Untuk mengurangi keluhan petani tentang kerumitan dalam tanam jajar legowo, BPTP Jatim telah mengenalkan Atajale (Alat tanam jajar legowo).

Ketiga, dalam penentuan dosis pupuk sangat dianjurkan mengacu kepada BWD (bagan warna daun) dan PUTS (perangkat uji tanah sawah). Jika ada koneksi internet, rekomendasi pemupukan dapat disempurnakan dengan mengakses layanan  online di alamat webapps.irri.org/nm/id/.

Keempat, petani berpendapat bahwa jajar legowo mengakibatkan peningkatan gulma. Keluhan ini bisa diatasi dengan penggunaan osrok sebagai alat bantu penyiangan. Dengan jajar legowo, penyiangan menggunakan osrok cukup dilakukan searah. Sedangkan jika menggunakan jajar tanam tegel, penyiangan dilakukan secara silang. Penggunaan osrok dapat menghemat biaya penyiapan sekitar 50%.

Dianjurkan, penyiangan tidak menunggu gulma tumbuh besar. Selain memudahkan, penyiangan dengan osrok juga berfungsi menggemburkan (jawa: dangir) tanah.

Kelima, perlu diperhatikan umur panen yang tepat, karena antar varietas berbeda-beda. Perontokan gabah dengancara gebok, tidak dianjurkan. Sebaiknya menggunakan alat perontok, baik yang tipe peda maupun menggunakan mesin.
Salah satu faktor penting untuk mencapai produktivitas tinggi tanaman padi adalah tanam bibit muda (10–15 hari). Dengan catatan, rekomendasi itu tidak dianjurkan untuk daerah endemik keong emas.

Petani umumnya tanam bibit berumur 21–25 hari, sehingga enggan menanam bibit muda karena ukurannya dianggap masih terlalu kecil. Oleh karena itulah, Ir. Rohmat Budiono, MP., salah seorang peneliti BPTP Jatim telah menemukan cara sederhana memacu pertumbuhan bibit. Bibit yang dihasilkan meski baru berumur 10–15 hari, ukurannya sama dengan umur 21 hari dengan cara biasa.

Pembibitan dapat dilakukan dimana saja. Bahkan lebih dianjurkan dibuat di luar lahan sawah. Cara penyiapan bibit di luar lahan sawah, buat bedengan, cukup dengan pembatas bambu atau papan (seperti terlihat pada gambar). Kemudian masukkan campuran pasir dan pupuk kandang setinggi 15 cm.

Proses pemeraman benih dan penebarannya di bedengan dilakukan seperti biasa. Selanjutnya tutup permukaan pembibitan dengan karung plastik putih (glangsi).

Setelah berumur 10 hari, tutup karung dibuka, sehingga bibit terkena sinar matahari langsung. Lima hari kemudian (umur 15 hari), bibit sudah siap tanam dengan ukuran sama dengan bibit umur 21 hari dengan cara biasa.

Teknik itu, selain dapat memacu pertumbuhan bibit, juga dapat menghindari serangan hama tikus, penggerek batang dan burung.

Mengapa tanam bibit sebaiknya berumur muda (10–15 hari)?

Sebab, di pesemaian, bibit mulai beranak pada umur 15 hari setelah sebar (HSS), sehingga menanam bibit berumur lebih dari 21 HSS, sama dengan membiarkannya mengalami masa beranak pada kondisi berdesakan di pesemaian. Hal itu akan mengurangi kemampuannya beranak di lahan.

Oleh karena itu, dengan umur bibit masih muda, cukup ditanam 1-2 bibit per titik tanam, sehingga lebih hemat. Selama ini petani biasanya menanam 5 bahkan lebih per titik tanam.

Pertimbangannya, jika ditanam umur 10-15 HSS dengan 1-2 bibit per titik tanam, jumlah anakan maksimalnya sama dengan jika ditanam umur > 21 HSS dengan 5 bibit per titik tanam. Jadi kenapa harus tanam lebih dari 2 bibit per titik tanam?


Hayo Bapak/ibu Tani, masih mau tanam bibit padi berumur tua?
#2 Kembali

Jejer Legowo saja

Dengan menerapkan jajar tanam Jajar Legowo saja, produksi padi dapat meningkat sekitar 30%. Peningkatan produksi itu diperoleh dari hasil perkiraan akibat penerapan Jajar Legowo yang meningkatkan populasi tanaman sebesar 44%.

Tentu saja petani harus mau menerapkan komponen budidaya lain secara baik dan benar.

Namun demikian, menurut anggapan petani, penerapan Jajar Legowo rumit dalam pelaksanaannya, biaya tanam meningkat, gulma bertambah banyak dan produksi tidak meningkat.

Secara mendasar keluhan itu tampaknya lebih kepada kesalahan persepsi dan pemahaman yang kurang rinci.

Keluhan pertama dapat diatasi dengan penggunaan Alat Tanam Jajar Legowo (Atajale). Kedua, biaya tanam yang meningkat dikompensasi dengan peningkatan produksi dan penghematan biaya penyiangan sebesar 50% dengan alat osrok/landak. Keluhan ketiga, juga dapat diatasi dengan penggunaan alat osrok dan penyiangan dilakukan selagi gulma masih kecil. Sedangkan produksi yang tidak meningkat agak sulit dijelaskan, kecuali petani tidak menerapkan komponen teknologi lain secara baik dan benar.

Selain keuntungan yang telah disebutkan di atas, Jajar Legowo dapat meningkatkan efektiftivitas pupuk, karena pupuk hanya diberikan pada alur jajar tersempit. Dengan cara itu, kehilangan pupuk 70% dapat ditekan hanya menjadi kurang dari 40%.

Kedua, pengendalian hama dan penyakit lebih mudah dilakukan dibanding jajar tanam tegel.


Hayo Bapak/ibu Tani, masih mau menggunakan jajar tanam tegel?
#3 Kembali

Dengan Jajar Legowo Saja, Produksi Padi Berpeluang Meningkat 30%

Salah satu keluhan petani yang enggan menerapkan jajar tanam Jajar Legowo adalah anggapan penerapannya yang rumit.

Padahal dengan Jajar Legowo berpotensi meningkatkan produksi 30%. Kerumitan itu disebabkan adanya 3 kombinasi jarak tanam, yaitu 20 x 10 cm sebagai satu grup barisan, sedangkan antar grup barisan berjarak 40 cm, yang dikenal dengan sebutan Jajar Legowo 2:1.

Kerumitan itu bisa diatasi dengan penggunaan Atajale (seperti gambar). Dengan alat ini, sekali tarik, sudah terbentuk garis-garis saling-silang untuk menentukan titik tanam. Sedangkan dengan menggunakan alat bisa pada jajar tegel (garet), tarikan harus dilakukan dua kali saling-silang.

Keuntungan penggunaan Atajale adalah mudah dilakukan (pria/wanita), efektif dan efisien, serta jarak tanam menjadi konsisten/tetap. Memang, kelemahannya, tidak dapat digunakan saat lahan tergenang air.

Uniknya, dengan penggunaan Atajale, petani dapat melakukan tanam secara mundur, maju atau menyamping. Untuk ibu tani, jika tanamnya maju, harus menggunakan celana, bukan rok. Sebab, rok akan menyenggol bibit yang baru ditanam sehingga bisa rusak atau roboh.


Hayo Bapak/ibu Tani, apa masih mau bilang Jajar Legowo itu rumit?
#4 Kembali

Inilah Jajar Legowo yang Sebenarnya



Sejak pertama kali dimasyarakatkan, dalam Jajar Legowo (Jale) dikenal ada tiga model, yaitu 2:1, 4:1 dan 5:1. Model  2:1, berarti setiap dua baris tanam dipisahkan oleh jarak yang lebih lebar (40 cm) dengan dua baris tanam sebelahnya. Begitu juga dengan 4:1, setiap empat baris tanam dipisahkan oleh jarak yang lebih lebar (40 cm) dengan empat baris tanam sebelahnya.



Namun sebenarnya, selain 2:1 tidak memenuhi prinsip dan tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan Jale. Dengan Jale 2:1, seluruh tanaman menjadi tanaman pinggir, sehingga lebih produktif. Sedangkan 4:1 dan 5:1, hanya tanaman baris terluar saja yang menjadi tanaman pinggir. Selain itu, kemudahan-kemudahan dalam pemeliharaan tanaman hanya dapat diperoleh dengan Jale 2:1.



Salah satu hal yang unik, penerapan Jale 2:1, tanam bibit dapat dilakukan dengan langkah maju, mundur dan menyamping (seperti pada gambar).


Penerapan Jale hanya model 2:1 harus menjadi komitmen antar peneliti dan petugas lapangan, tutur Ir. Rohmat Budiono, MP, salah seorang peneliti BPTP Jatim yang mencetuskan “Cara Cerdas Budidaya Padi”. Dengan demikian prinsip dan tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan Jale dapat dicapai secara maksimal, imbuhnya.


#5 Kembali



Dalam satu hamparan, mungkin saja ada banyak kondisi yang membedakan antar petakan sawah (seperti pada gambar). Perbedaan itu mengakibatkan perbedaan pula dalam penentuan rekomendasi pemupukannya. Hal itu belum banyak disadari oleh petani. Selain itu, perbedaan kondisi tersebut dapat mengakibatkan  perbedaan hasil meski diperlakukan sama dalam hal pemupukan dan lainnya.

Oleh karena itulah penetepan pemupukan sebaiknya spesifik lokasi. Bahkan, kalau memungkinkan, hendaknya spesifik petakan.

Apakah mungkin ditetapkan rekomendasi pemupukan spesifik per petakan sawah?

Tentu saja mungkin. Untuk penetapan dosis pupuk N menggunakan Bagan Warna Daun (BWD). Unsur hara lainnya menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Dengan catatan, untuk penggunaan PUTS, karena harganya mahal, dianjurkan digunakan dalam kelompok.

Ada cara lain yang dapat menghasilkan rekomendasi spesifik petakan sawah, yaitu dengan mengakses web pada alamat: webapps.irri.org/nm/id/. Jika petani masih kesulitan mengaksesnya, dapat diperoleh dengan bantuan petugas.

Pada halaman web pengunjung dipandu untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi sawah dan perlakuannya selama ini. Pengunjung juga dapat memasukkan target produksi maksimal sampai sistem tidak dapat menjawab.

Dalam banyak kasus, rekomendasi yang diperoleh dari web di atas, dosis pupuk yang dianjurkan lebih rendah dari kebiasaan petani, dengan produksi sama. Hal itu menunjukkan, bahwa selama ini petani boros dalam penggunaan pupuk.

Sumber foto, diolah dari http://www.flickr.com/photos/43016841@N05/3964903519/
#6 Kembali

Pengairan Berselang, Sudah Hemat Air, Tanaman Tumbuh Lebih Baik

Selama ini ada anggapan, bahwa tanaman padi harus digenangi terus-menerus selama hidupnya. Cara pandang itu kurang tepat. Justru dengan pengaturan pengairan berselang, tanaman akan tumbuh dan berproduksi lebih baik.

Keuntungan pengairan berselang, pertama, menghemat air irigasi sehingga areal tanam lebih luas.

Kedua, akar mendapatkan udara lebih banyak sehingga berkembang lebih dalam. Ketiga, mencegah timbulnya keracunan besi, mencegah penim­bunan asam organik dan gas H2S yang menghambat perkem­bangan akar. Keempat, mengaktifkan jasad renik mikroba yang bermanfaat. Kelima, mengurangi jumlah anakan yang tidak produktif dan kerebahan serta menyeragamkan pemasakan gabah dan mempercepat waktu panen. Keenam, memudahkan pengendalian hama keong mas, mengurangi penyebaran hama wereng coklat dan penggerek batang, dan kerusakan tanaman karena hama tikus.


Acuan pengairan berselang secara umum seperti tabel di bawah:



Teknik pengairan berselang penting untuk dipahami dan diterapkan oleh petani mengingat terbatasnya air pengairan di beberapa daerah.
#7 Kembali

Menekan Kehilangan Hasil Panen yang Masih 10-15%


Ada dua hal yang pada umumnya menjadi penyebab kehilangan hasil yang paling dominan, yaitu umur panen dan perontokan yang kurang tepat.



Umur panen yang tepat bergantung kepada varietasnya. Secara umum, jika tanaman telah menguning 95%, sudah siap untuk dipanen.Tetapi untuk varietas yang mudah rontok, sebaiknya dipanen saat 90% pertanaman mulai menguning. Setelah dipanen, dianjurkan segera dirontokkan di tempat.



Perontokan yang dianjurkan menggunakan mesin perontok, baik yang bertenaga mesin maupun yang bertenaga manusia (pedal). Selain itu, di bawah alat perontok dipasang alas terpal plastik untuk mencegah gabah yang terlempar menjadi hilang.


Setelah segala daya upaya dan kurbanan untuk memproduksi padi, justru petani kehilangan hasil 10-15% hanya karena kekurang-cermatan.Relakah Bapak/ibu Tani?
#8 Kembali





Kadang kala, ketika musim panen, daya tampung lantai jemur menjadi masalah dalam pengeringan padi yang sudah dirontokkan menjadi gabah. Petani Lamongan punya cara yang unik untuk mengatasinya.



Caranya, saat tiba musim panen, tanaman padi dipotong seperti biasa. Kemudian, setiap 2-3 rumpun diletakkan di atas bekas potongan rumpun (Jawa: singgang) tadi. Setelah dibiarkan 3-4 hari di sawah, segera lakukan perontokan dengan mesin perontok.



Hebatnya, tanpa dijemur lagi, gabah hasil “Pethek” dapat disimpan 3-4 bulan di gudang, dengan kadar air 17-20%.



Jumlah rumpun yang ditumpuk di atas singgang perlu betul-betul diperhatikan. Sebab, kalau lebih dari 3 rumpun, tumpukan menjadi terlalu lembab dan dapat mengundang penyakit atau bisa mengalami proses pembusukan.


Tentu saja, hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah keamanan padi yang sudah dipotong. Sebab, potongan yang diletakkan di atas singgang beresiko hilang diambil orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
#9 Kembali





"Cara Cerdas Budidaya Padi”, pada dasarnya adalah penerapan teknologi PTT Padi secara lebih cermat, disertai komitmen yang kuat antara peneliti dengan petugas dalam diseminasinya kepada petani. Untuk tujuan peyakinan, berikut disajikan catatan ringkas mengenai keuntungan apabila menerapkan “Cara Cerdas” di atas (tabel di bawah).


Sejauh ini, faktor-faktor yang sudah dijelaskan pada tulisan - tulisan sebelumnya adalah “Cara Cerdas Budidaya Padi versi 1”.  Artinya, ke depan,  perbaikan dan peningkatan kecermatan penerapan teknologi masih diperlukan dari peneliti dan petugas, bahkan juga dari para petani.
#10 Kembali





Siklus serangan wereng batang coklat (WBC) padi berkisar antara 4-8 tahunan. Puncak serangan tahunan kali ini terjadi pada 2011 yang lalu. Namun perlu diperhatikan, bahwa puncak serangan WBC 2011 itu, kemungkinan terdorong oleh terjadinya lanina (penghujan yang panjang). Demikian dijelaskan oleh peneliti BPTP Jatim, Ir. Handoko, MSi.



Oleh karena itu, petani tidak boleh lengah untuk selalu memantau dan melakukan pengendalian segera tanaman padinya. Sebab, meski luasannya sempit, telah dilaporkan terjadi serangan WBC di Lamongan beberapa minggu lalu.



Mulai dari pencegahan sampai dengan pengendalian, BPTP Jatim telah memberikan rekomendasi secara umum, yaitu: (a) Tanam varietas tahan wereng coklat, (b) Tanam serempak, selang waktu tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 3 minggu, (c) Pergiliran varietas, gunakan yang berumur genjah, (d) Setiap varietas tidak ditanam lebih dari 2 kali berturut-turut dalam setahun, diselingi tanaman palawija, (e) Pemupukan berimbang, hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan akibat serangan hama wereng coklat, dan (f) Pada tanaman terserang, keringkan petakan 3-4 hari. Lahan bebas dari tungguh jerami, segera setelah panen tunggul jerami disingkirkan dari lahan atau segera dibajak.



Salah seorang peneliti BPTP Jatim lainnya, Prof.Dr. Moh. Cholil Mahfud, memberikan teknik lebih rinci pengendalian WBC, terutama apabila terjadi serangan pada fase pengisian gabah. Teknik itu merupakan pembaruan dan perbaikan terhadap praktik yang dilakukan petani. Selain itu, diarahkan agar tidak meluas ke tanaman sehat. Untuk itu Mahfud memberikan saran sbb.:


  1. Amati populasinya pada pangkal batang, bila sedikit atau rendah (kurang dari 10 ekor per rumpun), tanaman disemprot menggunakan agensia hayati dengan larutan jamur Verticillium dan Beauveria
  2. Apabila populasinya tinggi (lebih dari 10 ekor per rumpun), pasang lampu perangkap (seperti pada gambar di bawah) pada pematang (1 ha dipasang 10 lampu perangkap), diikuti dengan menyemprot tanaman menggunakan insektisida anjuran (misalnya Abuki 50 SL dan Virtako 300 SC). Penyemprotan insektisida sebaiknya dimulai jam 09.00 atau sore hari
  3. Jika dipandang perlu, lakukan panen segera (panen dini) untuk menghindari gagal panen.


Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan pengendalian WBC di atas. Pertama, dalam penyemprotan (baik agensia hayati maupun insektitisa), arahkan nozle sprayer ke pangkal batang. Sebab, WBC bergerombol di pangkal batang padi. Kedua, pengendalian WBC hendaknya dilakukan serentak dalam hamparan. Sebab, petak yang tidak dilakukan pengendalian, akan menjadi sumber bagi petak yang dikendalikan. Dengan demikian, kedua hal itu akan meningkatkan efektivitas tindakan pengendalian, sekaligus menghindarkan kesia-siaan, tegasnya. #11 Kembali



Share this case:

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Donasi

Klik saja !!

klik saja

Klik saja !!

Klik saja !!