herdinbisnis.com: Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga

.

.

Jumat, 18 April 2014

Written on

Pengelolaan Sampah Organik Rumah Tangga


Teori Dasar Kesuburan Tanah menyebutkan bahwa Tanah yang Subur itu tidak dipupuk ataupun dipupuk hasil panen tetap tinggi. Tanah yang tidak subur, jika Tidak Dipupuk hasil panen akan merosot. Herdinbisnis sedikit tertarik dengan tulisan yang dibuat seorang rekan, Kang Rully dalam blognya tentang penanganan sampah kota.  

Hal utama yang membuat saya tertarik adalah bagaimana pemenuhan ketersediaan nutrisi tanah itu ternyata bisa dipenuhi dari sampah keluarga, sampah kota dan sampah di lingkungan kehidupan orang kota lainnya. Sebetulnya itu adalah anugrah buat Kota dan lingkungan sekelilingnya. Karena suplai bahan organik dari daerah pertanian ke kota besar, dan konsumsi bahan organik juga besar, sisa-sisa bahan organik yang dibuang juga besar. Demikian besarnya hingga menjadi sebuah persoalan bagi Pemerintah Kota untuk mengelola sisa-sisa yang terbuang tersebut.

Coba kita perhatikan berapa duit yang disediakan untuk menyediakan suplai nutrisi kepada tanah yang tidak subur, yang tidak memiliki kandungan Kompos yang menyediakan Nutrisi lengkap bagi tanah ?. Coba kita hitung betapa borosnya kita ini ?

Ekonomi kesuburan tanah :

Luas lahan budidaya 27 juta hektar, 
jika rerata kebutuhan NPK 300 kg/hektar, 
maka diperlukan total NPK sekitar 8 juta ton. 
Kalau 1 kg NPK harganya Rp 2.000,- maka nilai totalnya Rp. 16 T.

Jika Kompos kita bisa sediakan sendiri, dan nutrisi tanaman bisa kita ambil sendiri dari lahan kita, betapa kita bisa membantu berjuang menguatkan bangsa sendiri untuk bertanam pangan dan kebutuhan lainnya dengan lebih baik ?.

Hampir semua kota besar saat ini mengalami masalah dengan penanganan sampah. Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan taraf ekonomi masyarakat, volume sampah yang harus ditangani Pemerintah Kota semakin besar sementara kemampuan armada persampahan kota dan TPS (Tempat Pembuangan Sementara) maupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir) semakin berkurang. Permasalahan lain juga timbul dari perkembangan penduduk di sekitar TPA yang akhirnya membatasi perluasan TPA itu sendiri.

Sebenarnya masalah persampahan kota ini dapat ditangani apabila masyarakat mau bekerjasama dengan pemerintah, bukan hanya menuntut bahkan menyalahkan pemerintah. Paling tidak masyarakat dapat ikut membantu mengurangi sampah yang harus ditampung pada TPA. 
Unit Keranjang Sampah yang Dimiliki sebagian Kita

Demikianlah, tak jemu-jemunya herdinbisnis mengkampanyekan pengelolaan sampah organik di kediaman kita, karena manfaatnya nantinya akan cukup banyak. Karena media tanam akan membantu ketersediaan gizi keluarga. Mari kita mengelola sampah untuk kesejahteraan kita sendiri.

Bagaimana caranya ?

  • Dengan sedikit kesadaran dan kemauan, marilah kita pisahkan sampah organik dan non-organik plus kertas. 
  • Sediakan 2 tempat sampah di dapur, satu untuk kertas dan plastik dan satu lagi untuk sisa makanan, sayuran, atau buah-buahan. 
  • Tanamkan kebiasaan pada seluruh anggota keluarga agar disiplin membuang sampah pada tempatnya sesuai jenis sampah (kebisaan akan membuat suatu pekerjaan yang tadinya dianggap merepotkan akan terasa ringan !).
  • Buang sampah non-organik dan kertas di bak sampah untuk diambil petugas sampah, sedangkan sampah organik dibuang ke dalam bak khusus untuk diproses menjadi pupuk organik.
Sampah organik yang diproses menjadi pupuk organik (kompos) akan sangat membantu bagi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan media tanam tanaman pot atau menyuburkan tanah di sekitar tamanan buah-buahan atau  tanaman hias di pekarangan, jadi tidak perlu membeli. Tanaman dalam pot akan tampak selalu segar (sebaiknya media tanam dalam pot diganti 2/3 nya setiap 6 bulan sekali), tanaman buah-buahan akan tumbuh subur dengan buah yang baik, begitu pula tanaman bunga akan berbungan dengan lebih baik.


Jadikan rumah indah, segar dan menyehatkan. Rumahku adalah surgaku, tempat istirahat yang menyenangkan dan menenangkan, sebagai obat stress setelah seharian bekerja.

Berikut Ilustrasi Singkat Elemen Penyediaan Kompos Rumah Tangga di Rumah, bisa dicoba atau dikreasikan sendiri.
"Wah... Pak, saya gak mau repot-repot lah, pekerjaan saya banyak, mana sempat memilah sampah apalagi membuat kompos segala ! Apalagi nanti kan timbunan sampahnya bau dong !," begitulah pernyataan yang sering dilontarkan Ibu-Ibu. TIDAK, kalau kita telah membiasakan diri dan tahu cara membuat kompos dengan benar !

BAGAIMANA ?

Yang pertama, siapkan 2 tempat sampah dalam rumah terutama di dapur dan di ruang makan dengan tanda yang jelas, yang satu ditandai UNTUK PLASTIK DAN KERTAS dan yang lain UNTUK SISA MAKANAN, SAYURAN, DAN BUAH-BUAHAN.

Yang Kedua, buatlah bak pemroses kompos (BAK KOMPOSTER) di halaman belakang rumah (kalau ada) dengan semen atau bisa pula dibuat dari ember plastik besar. Sebaiknya bak komposter ini dibuat 2 buah.

Gambar di bawah ini contoh dan model bak komposter yang bisa disiapkan. Apabila dibuat dari semen dengan cara menggali tanah, buatlah permukaan bak lebih tinggi minimal 5 sentimeter dari muka tanah agar tidak kemasukan limpasan air hujan.






Tutup bak komposter sebaiknya dibuat kedap air atau tidak bocor dan cukup rapat, sehingga bak tidak kemasukan air hujan. Pada komposter yang dibuat dari ember plastik, sebaiknya dibuatkan lubang aerasi (diameter sebaiknya 1 inchi) agar bakteri atau jasad dekomposter lain yang bersifat aerob (butuh oksigen) dapat berkembang dengan baik. Untuk menghindari bau busuk (walaupun sedikit karena lubangnya kecil), lubang aerasi ini dapat disambung dengan selang atau pipa pralon yang ujungnya ditempatkan pada ketinggian yang aman.

Sebaiknya setiap rumah menyediakan bak komposter sebanyak 2 buah agar pada saat bak penuh, sementara lapisan atas belum terdekomposisi dengan baik (masih bau busuk), sampah baru dapat ditampung pada bak satunya lagi.

Sampah organik yang telah penuh dalam tempat sampah dalam rumah dibuang/dimasukkan ke dalam bak komposter dan diratakan. Sebelumnya masukkan siramkan nasi busuk pada lapisan terbawah. Dalam nasi busuk tersimpan Mikro Organisme Lokal. Atau dapat menggunakan Bokashi, selapis bokashi dalam bagian terbawah bak komposter. Setiap ketebalan sekitar 10 - 20 cm ditaburi tanah setebal kira-kira 2-5 cm (tanah bekas media tanam pot yang diganti dapat dibuang/ditaburkan dalam bak komposter). Untuk mempermudah pembusukan (dekomposisi), setiap lapisan disiram dengan cairan Microorganisme (lihat artikel lain mengenai pembuatan Microorganisme Cair) yang dapat dibuat sendiri atau dibeli di toko tani terdekat (dapat dengan pupuk organik cair) secukupnya. Setiap lapisan biasanya akan terdekomposisi dengan baik (matang) setelah 2 minggu, sehingga bak dengan kedalaman 1 meter dapat menghasilkan pupuk organik selama kira-kira 2 bulan. Sampah yang sudah matang dicirikan dengan hilangnya bau busuk dan penampakkannya sudah seperti tanah (gembur), berwarna kehitaman. Apabila kita mempunyai waktu luang yang cukup, sambil refreshing, ada baiknya isi bak diaduk / dibalik seminggu sekali agar proses dekomposisi berlangsung lebih baik lagi.




Setelah jadi, pupuk organik dapat disimpan dalam karung atau langsung digunakan untuk mengganti media tanam pot (untuk media pot sebaiknya dicampur tanah biasa dengan perbandingan 1 : 1) atau ditebar saja di sekitar tanaman pekarangan. 

TANAMAN PEKARANGAN ANDA AKAN SENANTIASA SUBUR DAN SEGAR.





Selain manfaat di atas, kebiasaan mengelola sampah di rumah juga memiliki keistimewaan yang luar biasa. Coba simak bagan di bawah ini :


Bayangkan bahwa anda telah melakukan :
  1. Membuat suasana pekarangan rumah hijau dan segar, tentunya lebih menyehatkan.
  2. Meringankan beban pemerintah dengan mengurangi volume sampah yang harus dikelola pada TPA.
  3. Kelebihan pupuk organik dapat diberikan pada petugas pengumpul sampah untuk dijual, sehingga anda dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mereka (bisa jadi sampah plastik dan kertas dapat dipak dengan baik dan dijual pada pengumpul besar).
  4. Sampah Plastik dan Kertas yang dibuang di TPA akan lebih mudah dipilah oleh para pemulung (bisa jadi para pemulung sudah mengambilnya sejak dari TPS, sehingga volume TPA akan berkurang lagi). Dengan kemudahan ini, diharapkan proses daur ulang akan lebih berkembang. Bisa jadi para pengusaha akan lebih tertarik mendirikan pabrik daur ulang plastik dan kertas (mungkin juga pemda melalui BUMD-nya) sehingga dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih besar.
  5. Pada akhirnya, mari kita kampanyekan PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK DI RUMAH, terutama pada rumah-rumah yang memiliki halaman.
Ingatlah Prinsip Dasar Kesuburan Tanah itu sebagaimana ilustrasi berikut ini :


karena itu jika pusat ketersediaan kompos dan pupuk organik itu berasal dari sampah kota, itu bukan omongan kosong. Semakin kesuburan tanah kita terjaga, semakin kita memberikan dukungan bagi efisiensi anggaran untuk penggunaan Pupuk Kimia. 

disadur dari beragam sumber
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!