herdinbisnis.com: Cara Mendapatkan Air dengan Memanen Kabut

.

.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Written on

Cara Mendapatkan Air dengan Memanen Kabut

Alat Pemanen Air,
dibuat seorang anak SMP
Akhir-akhir ini masalah kekurangan air menjadi persoalan bagi sebagian penduduk di musim kemarau. Sumber-sumber mata air menipis kucurana airnya, jarak tempat tinggal dan tempat yang tersedia air sangat jauh. Penderitaan menjadi potret yang seringkali muncul di layar televisi.

Namun, hal tersebut bisa diatasi jika kita berusaha dan mengupayakan jalan keluar, selain dengan beberapa kegiatan yang menjadi saran kami untuk menyelamatkan kualitas hidup sebagian besar masyarakat yang kekurangan air.

Anda bisa memulai menjadi pioner dalam pembudidayaan tanaman pepohonan di kawasan yang tinggi, sehingga akan memunculkan sumber air. Tanamlah setidaknya 1-3 bibit pohon setiap tahunnya, dan pastikan tanaman tersebut tumbuh. Seumur hidup kita akan menciptakan ratusan sumber air yang bermanfaat bagi sesama.

Atau melakukan pembuatan embung-embung yang banyak di sekitaran Daerah Aliran Sungai sejak dari Hulu hingga Hilir. 
Embung ini akan menjadi penahan air ditampung sebanyak-banyaknya, dan dilepaskan secara perlahan-lahan, sehingga tersedia sampai pada musim hujan berikutnya. 

Atau Anda bisa melakukan pembuatan waduk-waduk buatan yang sederhana dengan membuat cekungan dalam dimusim kering ini, dan memadatkannya dengan semen sehingga kelak dimusim hujan tersedia genangan cukup banyak, dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup. 

Beberapa penduduk yang hidup pada kawasan yang daerahnya mudah dilewati Kabut sejak sore sampai keesokan paginya, kini bisa melakukan cara ini untuk memperoleh air bagi kebutuhan keluarga dan dirinya. Yakni memanen Kabut. 

Berikut ilustrasi dari ecoideasnet, bagaimana kabut bisa disulap jadi air yang berlimpah :


Memanen Kabut berarti melakukan pengumpulan air yang memang tersedia dalam udara. 

Setiap udara selalu mengandung uap air. Uap air itu bisa dikumpulkan. 

Pengumpulan uap air itu dilakukan dengan perangkap berupa penampang vertikal berukuran besar dan lebar membentuk sebuah kanvas kasa. Bahan kasa ini biasanya dari bahan polyethiline (semacam plastik- atau sejenis waring). Waring dapat diperoleh di toko-toko pertanian. Waring ini dibentuk menjadi kanvas. Jika tidak diperoleh waring, bisa menggunakan anyaman tali plastik yang dibentuk jaring.

Kanvas Waring ini dibuat tegak berdiri agar bisa menjadi tempat berkumpulnya uap air. Kanvas Waring ini kemudian menjadi tempat uap air  menempel lalu mengembun menjadi tetesan air. 

Tetesan air yang dihasilkan ini kemudian dibuat menetes dan ditampung dalam sebuah penampungan berupa talang air yang dibuat sedikit miring dan  mengalir ke bawah menuju palung bisa berupa bak atau drum atau jirigen atau apalah bentuknya penampungan tersebut dan berada dibawah kanvas. 


Kanvas kasa ini dikenal sebagai PAGAR KABUT. 

Beginilah proses uap air itu menjadi air yang dibutuhkan kita untuk melanjutkan hidup itu. Tayangan berikut adalah gambaran bagaimana proses kondensasi itu bisa menyediakan air, 




Pagar Kabut, airnya ditampung untuk air mimum dan pertanian. Sumber Google.


Sejarahnya dalam Peradaban Manusia

Metode ini dahulu sering digunakan oleh para pengelana yang mencoba bertahan hidup dari keadaan yang tidak tersedia air. Orang-orang yang tidak menemukan air, menggunakan batu-batu panjang yang diberdirikan dan air yang terkumpul pada dasar bebatuan tersebut dibuat penampung dan dialirkan ke sebuah cekungan. Seringkali cekungan tersebut juga terbuat dari batu.  Batu yang diberdirikan tidak cuma satu, namun banyak batu. Sehingga cukup menyediakan air untuk hidup sehari-hari pada musim kering.


Sama seperti itu, ditemukan disebagian besar kawasan permukiman penduduk di Amerika dan Eropa. Ada yang menamakan sebuah kolam air tanpa sumber ini sebagai Dew pons (baca : dupon). Dupon sering ditemukan di kawasan yang mengandung kapur tinggi. Sebuah penelitian tentang dupon ini, digelar untuk mencari tahu bagaimana air bisa selalu terkumpul dalam genangan, tanpa kita tahu dari mana sumbernya. Prinsipnya adalah pada dasar yang cekung dan diberi lapisan yang kedap air, sehingga bisa menahan air lebih banyak dan lebih lama. Dahulu pada tahun 1700-an, mereka menggunakan bahan yang mudah didapat yakni tanah liat yang seperti kapur yang ditebarkan lalu dipadatkan dengan gerakan kuda yang ditunggangi melingkar. Demikianlah sehingga setiap dupon mesti berbentuk cekungan seperti sebuah wajan yang bagian dasarnya lebih dalam dan padat. Kenapa sering ditemukan di kawasan yang mengandung kapur tinggi ?. Ternyata penyebabnya karena air bisa jauh lebih lama bertahan dan tidak meresap ke dalam tanah. 


Lantas bagaimanakah ini terjadi ?. Kejadian ini terjadi melalui sebuah proses yang dikenal sebagai kondensasi, uap air di atmosfer dari udara alami mengembun pada permukaan yang dingin menjadi tetesan air yang dikenal sebagai embun.
Fenomena ini paling mudah diamati pada lapisan yang tipi atau datar pada benda yang bersinggungan dengan udara terbuka,  termasuk daun tanaman dan atau pisau rumput. 

Sebagai sebuah penampang yang tersentuh udara terbuka, permukaan itu terkena udara dingin dan menyelimutinya. Perlahan-lahan kelembaban atmosfer berubah dan mengakibatkan terjadinya peristiwa pengembunan, Kejadian ini kemudian mengakibatkan pembentukan tetesan air.

Di Dunia Modern
Pada pertengahan 1980-an, Meteorologi Service of Canada (MSC) mulai membangun dan menggunakan perangkat pengumpul kabut berukuran besar di Gunung Sutton di Quebec. 

Alat-alat sederhana terdiri dari sepotong besar kanvas (umumnya berukuran panjang 12 m x 4 m) membentang antara dua tiang kayu berukuran tinggi 6 meteran yang dipancangkan dengan  kabel kokoh, dengan pipa talang yang panjang di bawahnya. Air akan mengembun dari kabut ke kanvas, menyatu menjadi tetesan, lalu terus jatuh merambat kanvas  menetes dari bagian kebagian bawah kanvas dan terkumpul pada talangan lalu dialirkan ke Bak Penampung.

Uji coba tersebut berhasil, metode ini telah banyak membantu kawasan-kawasan yang sering kehilangan banyak sumber airnya. Mereka melakukan dengan sederhana, misalnya dengan merakit sendiri jala-jala dari tampar plastik, atau menggunakan paranet bekas, atau menggunakan bahan-bahan lainnya yang bisa menangkap kabut dan menjelmakannya menjadi air.

Contoh lainnya adalah, untuk masyarakat Nepal, alat pengumpul kabut ini telah berhasil menyelamatkan masyarakat yang tinggal di kawasan ekstrim di ketinggian Himalaya. 
Secara sederhana, beberapa komunitas pencinta alam telah berhasil menyediakan air bagi camp-camp kegiatan di ketinggian dengan alat penangkap kabut ini. Sehingga camp-camp tersebut tidak lagi kekurangan air.




Berikut beberapa video tentang MENDAPATKAN AIR DENGAN KABUT.
Berikut adalah tampilan dalam gambar-gambar Bagaimana Mendapatkan Air dengan Kabut.


dari beragam sumber, 



Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!