herdinbisnis.com: Anak-anak Desa di Lingkungan Persawahan Dilibatkan Membentuk Refugia

.

.

Minggu, 17 April 2016

Written on

Anak-anak Desa di Lingkungan Persawahan Dilibatkan Membentuk Refugia

TEMPO.CO, Banyumas– Tangan Firman dan Ibnu tak bisa diam melihat bunga warna-warni saat perjalanan pulang dari sekolah. Meski penasaran dan gatal ingin menyentuh, bunga urung mereka petik. Mereka tahu betul pentingnya bunga-bunga itu untuk ayah dan ibu mereka.

Fiman dan Ibnu kini sudah dibekali pengetahuan soal bunga-bunga itu yang berfungsi sebagai refugia. Refugia adalah intervensi ekosistem dengan menyediakan rumah untuk pemangsa hama. Tanaman bunga yang berfungsi sebagai refugia bisa bermacam-macam. Di tempat tinggal mereka, Desa Pliken, bunga yang ditanam antara lain bunga pukul empat, bunga kenikir, dan bunga matahari.

Ketika belum tahu fungsi bunga-bunga itu, anak-anak di Desa Pliken, Banyumas memetikinya. Sehingga refugia yang ditanam petani, tak berfungsi maksimal. Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki II, Sucipto, kemudian mendekati kepala sekolah yang ada di sekitar sawah.

Ada tiga sekolah yang murid-muridnya berpotensi memetik bunga refugia, yakni Sekolah Dasar Pliken 1, 2, dan MI Maarif. Setelah mendapat izin dari kepala sekolah, Sucipto kemudian memberi edukasi kepada murid-murid di sana.


Ia memberi pelatihan penanaman bunga. Pelatihan dilakukan di pinggir sawah atau di sekolah. “Mereka harus dilatih merawat dan menyayangi, supaya tahu kalau memetik itu artinya menyakiti bunga,” kata Sucipto.

Guru MI Maarif, Isti Zulaekah, mengatakan ia juga memberi penjelasan larangan memetik bunga refugia. Penjelasan yang diberikan guru adalah betapa pentingnya bunga itu untuk petani. “Karena mereka juga rata-rata anak petani, jadi memahami kalau petani susah,” kata Isti.

Food and Agriculture Organization (FAO) memperkenalkan rekayasa ekosistem dengan refugia sejak Oktober 2014 dalam program Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). FAO memberi bantuan dan pendampingan untuk tiga musim tanam.

Refugia akan meningkatkan kebugaran pemangsa hama padi. Laba-laba bisa menghabiskan 20-30 wereng cokelat per hari dalam satu rumpun padi.

Selain predator pemangsa hama, refugia akan menjadi rumah untuk parasitoid. Parasitoid adalah serangga yang hidup menumpang pada serangga lain. Tanpa refugia, parasitoid bisa membunuh 20-30 persen telur wereng cokelat. Pemanfaatan musuh alami ini akan meminimalisir penggunaan pestisida.

TRI ARTINING PUTRI

Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!