herdinbisnis.com: Mikro Alga untuk Ketahanan Energi dan Pangan.

.

.

Kamis, 24 November 2016

Written on

Mikro Alga untuk Ketahanan Energi dan Pangan.

Diambil dari bagian bawah rantai makanan laut, mikroalga mungkin segera menjadi perbincangan Utama menyaingi issue  untuk memerangi pemanasan global, serta kerawanan energi dan rawan pangan, demikian menurut sebuah studi oleh para peneliti yang konsern dengan Biofuel  yang diterbitkan dalam Sebuah  jurnal oseanografi.

"Kami mungkin telah tersandung ke revolusi hijau berikutnya," kata Charles H. Greene, profesor ilmu bumi dan atmosfer, dan penulis utama dari artikel baru, "Mikroalga Samudra :. Iklim, Energi dan Ketahanan Pangan Dari Sea" Studi ini menyajikan gambaran konsep budidaya skala besar industri mikroalga laut, atau disingkat  ICMM.

ICMM bisa mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dengan memasok biofuel hidrokarbon cair untuk industri penerbangan dan pengiriman kargo. 

Biomassa mikroalga yang tersisa setelah lipid telah dihapus karena telah digunakan untuk biofuel kemudian dapat dibuat menjadi pakan  ternak yang  bergizi  atau mungkin bisa jadi pakan alternatif masyarakat. 

Untuk membuat biofuel, memanen Mikro alga yang telah  tumbuh, kemudian menghilangkan sebagian besar kandungan air, dan kemudian mengekstrak lipid yang bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar. 


Sisanya adalah biomassa yang berupa lemak. Biomassa ini  adalah  bahan sisa proses yang kaya protein dan bergizi. Bahan ini  dapat ditambahkan sebagai pakan Utama atau pakan tanbahan untuk  pakan hewan ternak peliharaan, seperti ayam, itik dan rumanansia, atau hewan budidaya air, seperti salmon, tongkol, kerapu,  bandeng dan udang.

Menurut Penelitian lanjutan, setelah mengkonsumsi pakan yang dilengkapi  ganggang- ayam menghasilkan telur dengan tiga kali asam lemak omega-3.

Membudidayakan tumbuhan alga untuk memenuhi  permintaan bahan bakar cair global saat ini akan membutuhkan luas sekitar 800.000 mil persegi, atau Setidaknya tiga kali ukuran pulau Kalimantan. Jika hal tersebut terpenuhi maka  pada saat yang sama, 2,4 miliar ton produk protein  akan dihasilkan, yang kira-kira 10 kali jumlah protein kedelai yang diproduksi secara global setiap tahun.

Mikroalga Samudra  tidak bersaing dengan pertanian terestrial yang membutuhkan tanah yang subur, juga tumbuh tanpa  kebutuhkan air tawar. Areal yang gersang di   daerah subtropis - misalnya Meksiko, Afrika Utara, Timur Tengah, Indonesia  dan Australia - merupakan  lokasi yang cocok untuk memproduksi dalam jumlah besar mikroalga.

Satu unit fasilitas mikroalga komersial seluas sekitar 2.500 hektare akan menelan biaya sekitar $ 400 juta untuk $ 500 juta atau sekitar 5.5 Trilyun. 

Greene berkata : "Itu mungkin tampak seperti banyak uang, tapi solusi terintegrasi untuk tantangan terbesar di dunia akan membayar untuk diri mereka sendiri berkali-lipat sepanjang sisa abad ini. Biaya Jangan jadi hambatan untuk hal ini.."

Potensi Mikroalga adalah menggiurkan. "Saya yakini bahwa  ganggang menyediakan keamanan pangan bagi dunia," kata Greene. 

"Ganggang ini juga akan memberikan pemenuhan kebutuhan bahan bakar kami, belum lagi manfaat dalam hal penggunaan lahan. Kita bisa Membudidayakan ganggang sebagai sumber pangan dan bahan bakar hanya sepuluh persen jumlah lahan yang saat ini Kita  gunakan untuk menanam makanan dan tanaman energi.

"Kita bisa meringankan tekanan untuk mengkonversi hutan hujan untuk perkebunan kelapa di Indonesia dan perkebunan kedelai di Brazil," kata Greene. "Kami masuk dalam Solusi ini sebagai upaya jalan  memproduksi bahan bakar, dan sebagai proses menemukan solusi terpadu untuk begitu banyak tantangan terbesar masyarakat yang membutuhkan pangan yang cukup."


disadur dari beragam sumber. 
Share this case:

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Klik saja !!

Klik saja !!

Klik saja !!